Kisah Zahra dan Rosidi: Yatim Piatu Penyintas Gempa Lombok

Zahra dan Rosidi menjadi yatim piatu lantaran kedua orang tuanya tertimpa rertuntuhan gempa yang mengguncang Lombok. Satu tahun berlalu, kini Global Qurban-ACT berkunjung untuk memberikan daging kurban, sembari mendengarkan kisah mereka.

Kisah Zahra dan Rosidi: Yatim Piatu Penyintas Gempa Lombok' photo

ACTNews, LOMBOK - Udara pesisir menyapu di Dusun Sambik Jengkel, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara Senin (12/8) sore itu. Dari kejauhan terlihat Nasrudin menggandeng bocah perempuan berumur satu tahun lebih. Mereka berdua tersenyum melihat orang-orang yang berdiri di hadapan mereka. "Bapak, bapak," teriak si anak sambil menunjuk orang-orang di hadapannya sembari terus berjalan.

Tim Global Qurban-Aksi Cepat Tanggap (ACT)  memang menanti kedatangan Nasrudin dan keponakannya untuk memberikan hadiah Iduladha berupa dua buah paket daging, sambil menjenguk keadaan si kecil Zahra. Balita itu tidak ingat apa yang terjadi setahun silam ketika gempa Lombok meniadakan kedua orang tua kandungnya. Sebab saat itu, usia Zahra masih beberapa bulan. Tapi pamannya, Nasrudin, hafal betul kejadian malam mencekam itu. Saat itu, a sedang mencari ikan di tepi laut saat gempa sekuat M 6,4 mengguncang Lombok pada 29 Juli 2018.

"Saya langsung naik ke daratan. Sempat berpikir akan tsunami, tapi saya lihat air tidak naik ke darat. Saya langsung ambil motor dan kembali pulang. Sepanjang jalan saya menangis. Ingat keluarga saya dan khawatir mereka kenapa-kenapa," cerita Nasrudin pada Senin (12/8) lalu.

Nasrudin mulai khawatir, namun orang tua, istri, dan anak-anaknya semuanya selamat. Tetapi dari kejauhan, seorang warga memanggilnya. Ia baru teringat kepada adik ipar beserta kedua keponakannya yang berjarak beberapa rumah dari tempat ia tinggal.




"Ada yang bilang ke saya, 'Itu, anak si Atib (ipar Nasrudin) masih hidup. Coba tengok ke sana.' Begitu sampai saya lihat, rumahnya sudah roboh, rata dengan tanah. Saya mencari ke sana ke sini keluarga mereka, baru saya temukan yang pertama itu Zahra di bawah reruntuhan. Wajahnya bengkak-bengkak, sampai sulit mengenali dia," ujar Nasrudin sambil menunjukkan bekas jahitan kecil di bibir Zahra.

Namun kedua orang tua Zahra tak tertolong. Beton-beton rumah yang runtuh menimpa dan merenggut nyawa mereka. Zahra malam itu tiba-tiba menjadi yatim piatu, bersama dengan Rosidi, abangnya yang masih duduk di bangku SD, yang juga selamat karena sedang berada di luar rumah.

Satu tahun berlalu semenjak kejadian itu. Nasrudin dan istrinya memutuskan untuk merawat Zahra dan Rosidi. Kini mereka masih tinggal di Family Shelter, hunian nyaman dari ACT, karena rumah mereka yang lama belum direnovasi.

"Saya pokoknya tidak tahu lagi sudah (mau berkata apa). Saya senang pokoknya. Dapat daging kurban juga sekarang. Alhamdulillah, kami selalu ada yang bantu, jadi tidak susah. Pokoknya beribu-ribu syukur. Termasuk dari ACT, yang dari tahun lalu membantu lewat rumah ACT (Family Shelter) dan juga sering datang ke sini," kata Nasrudin.

Di Family Shelter, Nasrudin merawat Zahra dan Rosidi seperti anak mereka sendiri, tidak membedakan dengan kedua anak kandung mereka. Kedua kakak beradik ini menurut Nasrudin jarang terlihat sedih lagi semenjak tahun lalu. Terutama Rosidi yang sudah paham bahwa mereka tak lagi memiliki orang tua kandung.

"Senang-senang saja dia di sini, sering bermain juga keluar rumah dengan teman-temannya dan beberapa kali suka bandel. Wajar anak seumurannya. Tapi kalau dia sudah kelewatan bandelnya saya suka bilang, 'Ros, ingat bapak. Buat senang bapak di sana. Jangan kau nakal-nakal seperti dulu, nanti bapakmu sedih.' Biasanya kalau sudah begitu suka menangis dia, ingat bapaknya," kata Nasrudin.




Sebagai buruh lepas dan peternak kambing, Nasrudin masih merasa cukup mampu menghidupi keluarganya beserta kakak beradik ini karena ia merasa selalu ada rezeki yang datang. Sejak awal tahun lalu, bebannya jadi lebih ringan. Pasalnya, musisi Melly Goeslaw mengangkat Zahra dan Rosidi sebagai anak asuhnya. Setiap bulan, Melly Goeslaw yang dipanggilnya dengan Teh Melly mengirimkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dan berkomitmen membantu pendidikan Zahra dan Rosidi hingga setinggi-tingginya.

"Teh Melly juga sempat main ke sini menengok kami semua tahun lalu. Senang sekali rasanya waktu itu. Mudah-mudahan rezeki Teh Melly selalu dilebihkan oleh Tuhan,ya. Sekarang setiap lihat Teh Melly di televisi, saya juga suka bilang ke Rosidi. 'Ros, lihat itu orang tuamu. Doakan orang tuamu juga biar dia sehat selalu dan banyak rezekinya,'" ucap Nasrudin. []

Bagikan