Klinik Indonesia Layani Warga Palestina yang Memiliki Pelbagai Penyakit

Serangan dan blokade zionis Israel di Gaza membuat layanan kesehatan warga Palestina minim. Banyak pasien datang ke Klinik Indonesia dengan luka tembak akibat serangan.

Dokter tengah memeriksa pasien di Gaza
Dokter tengah memeriksa pasien di Gaza. Banyak pasien yang datang dengan luka akibat serangan. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Serangan dan blokade zionis Israel terhadap Palestina membuat banyak orang menjadi korban dan sulit mendapat layanan kesehatan. Selain meninggal, ada juga yang cacat, dan terluka. Warga di Gaza tak bisa mendapatkan layanan kesehatan yang layak.

Hadirnya Klinik Indonesia dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) membuat layanan kesehatan warga Gaza terpenuhi. Selama Februari 2021, fasilitas kesehatan buah kedermawanan masyarakat Indonesia ini telah melayani pasien sebanyak 1.323 jiwa. Banyak pasien yang datang terluka akibat jatuh atau tertembak. Tak hanya itu, penyakit lainnya juga banyak diperiksakan. 

“Penyakit seperti diare, kanker, pneumonia, influenza, luka kepala, ibu hamil, dialisis, dsektomi, peptic llcer, dan amputasi juga diperiksakan. Sakit apa saja mereka periksakan. Semuanya dilayani dengan baik sehingga masyarakat senang akan kehadiran Klinik Indonesia di Gaza,” kata Said Mukaffiy dari Tim Global Humanity Response-ACT, Ahad (7/3/2021).

Pasien didominasi oleh anak muda dengan rentan umur 18 sampai 25 tahun, yakni sebanyak 31 persen. Selanjutnya ada anak-anak usia 2 sampai 9 tahun dengan persentase 21 persen, lalu pasien usia 25 sampai 35 tahun sebanyak 20 persen, pasien 45 sampai 50 tahun 18 persen, dan 10 persen lainnya pasien di atas 50 tahun. Sedangkan, persentase pasien berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh laki-laki sebanyak 55 persen dan perempuan sebanyak 45 persen.

Said melanjutkan, persentase pasien karena terluka akibat serangan zionis Israel jumlahnya mencapai 30 persen. Hal ini menunjukkan serangan zionis Israel terus memakan korban dari pihak Palestina. “Sementara 70 persen pasien memeriksakan penyakit lain-lain,” ucapnya.

Kondisi tersebut, kata Said, membuat rakyat Palestina memerlukan uluran tangan dari para dermawan. Sehingga layanan kesehatan bagi rakyat Palestina bisa terus hadir.[]