Kolaborasi Kemanusiaan Atasi Darurat Kekeringan Priangan Timur

Enam bulan lamanya masyarakat Kampung Cipeusar mengalami darurat kebutuhan air bersih. Selama itu, warga hanya mengandalkan sungai yang biasa mereka sebut ‘lebak’ dengan jarak tempuh sekitar 900 meter dari desa mereka.

Kolaborasi Kemanusiaan Atasi Darurat Kekeringan Priangan Timur' photo

ACTNews, TASIKMALAYA ACT Tasikmalaya bekerja sama dengan BEM Universitas Siliwangi, BPBD Kota Tasikmalaya dan BPBD Kabupaten Tasikmalaya merespons darurat kekeringan di Priangan Timur dan sekitarnya dengan mengirimkan 10 truk tangki air.

Sepuluh truk itu dilepas secara simbolis dari Kampus Universitas Siliwangi Tasikmalaya oleh Kepala Cabang ACT Tasikamalaya, wakil rektor Universitas Siliwangi, Kepala Dinas BPBD Kabupaten dan Kota Tasikmalaya. Truk dikirimkan ke tujuh lokasi di tiga kota mapun kabupaten di Priangan Timur, yaitu Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Ciamis.

Adapun wilayah yang terdampak kekeringan cukup parah di Kota Tasikmalaya yaitu di Kampung Cipeusar, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Purbaratu. Sudah sekitar enam bulan masyarakat Kampung Cipeusar mengalami darurat kebutuhan air bersih. Selama terdampak kekeringan, warga hanya mengandalkan sungai yang biasa mereka sebut ‘lebak’ dengan jarak tempuh sekitar 900 meter dari kediaman warga. Ketersediaan air pun sangat sedikit, air hanya ada setiap pagi dan sore, sehingga warga harus rela mengantre dan bergantian untuk mengambil air bersih.

Yani (48), warga desa setempat, mengaku kesulitan mencari air bersih. Ia pun terharu saat tim pendistribusian air ACT Tasikmalaya tiba di desanya. “Genep sasih teh didieu mah atos sesah cai teh gusti ieu haturnuhun pisan kangge bantosanna (sudah enam bulan di sini susah air, terima kasih banyak untuk bantuan ini),” ungkapnya, Kamis (22/8).

Dalam pendistribusian ini, ACT Tasikmalaya dengan armada water tank-nya membawa lebih dari 50 ribu liter air ke kota maupun kabupaten Priangan Timur. 

Kepala Cabang ACT Tasikmalaya Taufik Perdana mengatakan, pendistribusian kali ini menjadi awal kolaborasi kemanusiaan berbagai pihak dalam mengatasi kekeringan. “Ini adalah awal untuk kami membersamai masyarakat dalam menghadapi kekeringan. Terlebih sepertinya musim kemarau akan terus berlanjut dan memungkinkan dampaknya akan semakin meluas. Jadi, ini merupakan bentuk ikhtiar kami untuk menggerakkan kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ungkap Taufik. Ia berharap, langkah ACT Tasikmalaya meredam kekeringan didukung masyarakat Indonesia lebih luas. []

Bagikan

Terpopuler