Kolam Tadah Hujan, Sarana Bersuci Jemaah Musala Baitul Arham

Berpuluh tahun jemaah Musala Baitul Arham, Kampung Koper, Kabupaten Tangerang, menggunakan kolam tadah hujan untuk menampung air. Mereka memanfaatkan air hujan untuk berwudu. Selain itu, MCK yang mereka miliki juga sangat sederhana.

sumur wakaf masjid
Kolam tadah hujan ini digunakan masyarakat secara bersamaan saat akan beribadah. (ACTNews)

ACTNews, KABUPATEN TANGERANG – Jika memasuki tempat wudu Musala Baitul Arham di Kampung Koper, Desa Koper, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, para jemaah tidak akan menemukan keran air sebagaimana tempat ibadah pada umumnya. Hanya ada kolam besar yang dibuat masyarakat untuk menampung air hujan, lengkap dengan ikan kecil berenang di dalamnya.

Dari air di kolam itu, jemaah bisa berwudu. Di sebelah kolam tampung, ada empat bilik tanpa penutup, yang terbuat dari beton setinggi 500 sentimeter. Demikian fasilitas MCK yang dimiliki musala tersebut selama sekitar 40 tahun–sejak berdiri.

“Memang keadannya begini. Saat buang air, kalau ada tamu dari luar, agak malu juga. Jangankan tamu, kalau warga sini saja enggak akan buang air di sini,” cerita Indra warga Kampung Koper, Sabtu (20/11/2021) lalu.

Menurut Indra, walau keadaan MCK dan air memprihatinkan, masyarakat tetap mengandalkan MCK dan kolam di musala, sebab di rumah sendiri tidak ada air. Indra pun kerap wudu di musala. Namun, karena ia memiliki MCK sendiri di rumah, ia mengaku lebih sering bersuci di rumah sebelum berangkat ke musala.


Indra menunjukkan para calon wakif kondisi MCK mereka di Musala Baitul Arham. (ACTNews/Reza Mardhani)

Indra menjelaskan. warga yang tidak memiliki MCK, sebenarnya bisa menggunakan air dari kali kecil dari aliran Sungai Cikande. Sayangnya, kondisi air sungai tersebut tidak cukup baik.

“Air sungainya sudah enggak layak pakai kalau menurut saya. Kadang bau, kadang airnya hitam. Mau enggak mau yang enggak punya sumur, menumpang di tempat tetangga. Kalau tidak ada pilihan lagi, air sungai pun akhirnya dipakai,” jelas Indra.


Bukan warga tidak ingin membangun fasilitas musala. Namun, biaya yang dimiliki belum ada. Ustaz Hafidz Assaifi, salah satu pemuka agama dan pemengaruh, membenarkan kondisi ini.

Ustaz Haifz, yang sempat mengunjungi Musala Baitul Arham menjelaskan, bukan hanya di Tangerang, di sejumlah daerah banyak musala-musala yang tidak punya atap. “Banyak cerita masyarakat yang sedang salat, tertimpa genting. Itu bukan sekali dua kali,” ujar Ustaz Hafiz.

Sebab itu, Global Wakaf-ACT yang mendampingi Ustaz Hafiz, mengajak masyarakat untuk menjadi wakif Musala Baitul Arham. Ustaz Hafiz berharap, bantuan terbaik dapat mengalir melalui silaturahmi hari itu.[]