Kolera Menghantui Awal 2019 di Yaman

Kolera Menghantui Awal 2019 di Yaman

Kolera Menghantui Awal 2019 di Yaman' photo

ACTNewsYAMAN  - Selama lebih dari tiga tahun, Yaman terkungkung perang tak terselesaikan. Hampir 10.000 jiwa tewas dan jutaan masuk ke ambang kelaparan. Bahkan, perang juga telah melumpuhkan sistem kesehatan dan sanitasi yang memunculkan sekitar satu juta kasus kolera dengan angka kematian sebanyak 2.770 jiwa, tercatat pada permulaan 2016 lalu.

Sementara awal Januari kemarin, ketika umat manusia merayakan tahun baru, kabar wabah kolera dari Yaman kembali terdengar. Melansir dari BBC.com, para ilmuwan kesehatan telah mengidentifikasi kemungkinan sumber epidemi kolera yang merebak di Yaman. Hasil identifikasi tersebut menyimpulkan, kasus kolera yang merebak di Yaman berasal dari Daratan Afrika Timur, kemudian penularannya dibawa masuk ke Yaman lewat jalur imigran. Kini di antara kemelut perang, kasus kolera di Yaman disebut sebagai yang terburuk dalam catatan sejarah Yaman.

Laman BBC.com juga menyebutkan penemuan itu berasal dari penelitian yang menggunakan teknik pengurutan genom dari 42 sampel kolera. Sampel itu diambil dari berbagai kasus yang tersebar di Yaman, ditambah dengan 75 sampel dari Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika. Tujuannya untuk memahami sifat dari jenis bakteri epidemi yang terjadi di Yaman.

Sebab menurut para ilmuwan, Yaman tetap menjadi negara transit bagi ribuan imigran yang melarikan diri dari buruknya situasi ekonomi dan politik di negara-negara Afrika, meski perang masih berlangsung. Pada 2017 misalnya, tercatat lebih dari 87.000 imigran dari Tanduk Afrika datang ke Yaman, padahal mereka harus melintasi Laut Merah atau Teluk Aden yang menjadi jalur berbahaya hingga sekarang. 

“Kami berharap data dapat membantu memperkirakan risiko wabah di masa depan dan digunakan untuk intervensi target yang lebih baik, sebab mengetahui bagaimana kolera bergerak secara global memberi kesempatan untuk lebih siap menghadapi  wabah di masa depan dengan tujuan akhir mengurangi dampak epidemi,” kata Profesor Nick Thomson dari Wellcome Sanger Institute.

Sejak perang dimulai, WHO mencatat Yaman telah mengalami dua gelombang kasus kolera. Gelombang pertama terjadi antara Oktober 2016 dan 26 April 2017 dengan 25.800 kasus dan 129 kematian. Sementara gelombang kedua dimulai pada 27 April 2017 dengan 1,336 juta kasus dan 2.641 kematian hingga November 2017.

Kolera mewabah, penderitaan warga sipil yang terperangkap perang pun kian bertambah. Pertempuran dan berbagai macam blokade membuat sekitar 16 juta warga Yaman tidak memiliki akses air minum, sanitasi, dan fasilitas kesehatan yang aman. Kondisi ini juga membuat 10 juta jiwa kehilangan kesempatan untuk bertahan, terutama perihal bahan pangan.

Apalagi melewati tahun baru kemarin, kemelut perang tidak juga mereda di Yaman. Satu cerita duka di tahun baru datang dari wilayah Taiz, wilayah yang selama ini jadi salah satu lokasi pertempuran dan pengepungan warga sipil Yaman, wilayah yang juga menjadi kota terbesar kedua di Yaman. Sedikitnya dua warga sipil tewas dan 16 orang lainnya mengalami luka-luka akibat artileri berat yang dilepaskan oleh pihak oposisi.

Menurut salah seorang narasumber yang dikutip Kantor Berita Aljazeera, mereka yang mengalami luka berat - mayoritasnya anak-anak - dilarikan ke rumah sakit milik pemerintah, rumah sakit yang tidak juga bisa dibilang mumpuni di tengah kondisi perang di Taiz.

“Begini cara kami di Taiz menyambut tahun 2019. Dunia menutup matanya, tidak peduli atas apa yang terjadi di Taiz,” ujar Aeda al-Absi, warga lokal Taiz, melansir Al-Jazeera.

Perserikatan Bangsa-Bangsa pernah menyatakan, hingga September 2018 lebih dari 11 juta anak di Yaman merasakan ancaman kekurangan pangan, menderita berbagai macam penyakit, eskalasi yang semakin besar, serta kekurangan akses yang kuat untuk menjangkau layanan sosial. Bertahun-tahun menghadapi konflik, bertahun-tahun juga warga Yaman seringkali menahan kelaparan. 

Untuk warga Yaman, Aksi Cepat Tanggap telah memberangkatkan Tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Yaman I pada November 2018 lalu. Tim tercatat melakukan beberapa aksi, antara lain distribusi bahan pangan, distribusi paket musim dingin, distribusi air bersih, dan membantu pengadaan alat kesehatan dan obat-obatan di salah satu klinik di Yaman. 

“Tak hanya melakukan aksi-aksi reguler untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk bertahan, kami juga mengadakan program penanganan gizi buruk. Kami membantu salah satu klinik khusus penanganan kasus malnutrisi. Sebab kekurangan alat kesehatan dan obat-obatan, seringkali klinik itu tidak beroperasi. Jadi, kami bantu dari segi itu,” papar Rudi dari Global Humanity Response (GHR) - ACT. []

sumber gambar: Dokumentasi Tim ACT di Yaman, Middleeasteye, Yemenpress, AFP

Bagikan