Kolong Jembatan yang Menjadi Rumah bagi Adi

Dua tahun sudah Adi dan anaknya tinggal di kolong jembatan di kawasan Bekasi. Tempat itu kini menjadi rumah baginya setelah tak bisa membayar uang untuk sewa rumah.

Anak-anak di Bekasi yang tinggal di bawah kolong jembatan. (ACTNews)

ACTNews, BEKASI Panasnya aspal dan bisingnya suara kendaraan di persimpangan Cut Meutia, Margahayu, Bekasi Timur seolah jadi makanan sehari-hari bagi Wasadi (41) atau yang biasa dipanggil Adi, dan anak semata wayangnya Ardiansyah (6). Di sana bukan menjadi perlintasan bagi mereka untuk berjalan, melainkan untuk tinggal. Sudah genap dua tahun bapak dan anak ini terpaksa tinggal dan menetap di kolong jembatan lampu lalu lintas tersebut. Beratapkan beton jalanan, keluarga ini juga tinggal persis di tepi sungai. Berjarak sekitar satu meter dari air yang mengalir, Adi menempatkan dua set kasur untuk tidur.

Selain kasur, ada juga meja dan sofa yang sudah lusuh di tempat yang Adi sebut sebagai rumah itu. Ada juga dapur yang sekaligus menjadi tempat Adi dan anaknya bercengrama sambil menikmati santapan yang mereka masak sendiri. Sayang, listrik tak mengalir di “rumah” Adi.

“Sudah dua tahun di sini, tidur, makan, mandi ya di sini saja. Habis mau bagaimana? Ngontrak rumah tidak ada biayanya,” kata Adi kepada tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang berkunjung ke tempatnya pada Rabu (28/10) lalu.

Adi pun bercerita, awal mula ia dan anaknya menetap di kolong jembatan dikarenakan ia tidak sanggup lagi membayar sewa rumah di daerah Duren Jaya, Bekasi Timur setelah mata pencahariannya sebagai pedagang di Pasar Baru terpaksa harus hilang. Sebelumnya, Adi merupakan pedagang di Pasar Baru, tak jauh dari terminal. Namun, ia kehabisan modal karena bermasalah dengan petugas tata tertib. Kondisi tersebut membuat Adi tak lagi berjualan. Kini ia mengais rezeki dengan menjadi pemulung.

Meski berkali-kali Adi harus menghadapi ujian dalam hidupnya, ia tetap bersyukur dan menyimpan segurat harapan mulia untuk bisa membesarkan anaknya dengan baik. Ia pun mengaku sering bertemu banyak orang baik di jalanan, walau keadaan mereka pun tak jauh berbeda dengan keadaannya. Untuk itu, ia selalu percaya masih banyak orang baik di sekitar Adi tinggal.

Pertemuan ACT dengan Adi ini pun berlangsung saat pendistribusian paket pangan dari ACT bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Bekasi. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, dimulai pada Rabu (28/10). Harapannya, momen Hari Sumpah Pemuda itu bisa menyemangati masyarakat prasejahtera untuk tegar dalam menjalani kehidupan. Serta memberikan pelajaran berharga bagi relawan yang mayoritas dari kalangan muda untuk bisa saling berbagi terhadap sesama.

Kepala Cabang ACT Bekasi Ishaq Maulana pun mengajak dermawan untuk bisa terus bersedekah demi mengurangi dampak kemiskinan yang masih merajalela. “Lapar dan kemiskinan bisa diselesaikan dengan bantuan kita bersama,” jelas Ishaq.[]