Kondisi Ekonomi dan Semangat Guru Honorer saat Pandemi

Pandemi Covid-19 membuat perekonomian guru-guru honorer tertekan. Meski begitu, semangat para guru untuk mengajar tidak sedikit pun berkurang.

guru honorer sumbar
Defiatul Hasanah usai menerima bantuan paket pangan dari Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, LIMA PULUH KOTA – Rabu (7/7/2021) lalu, ACT Lima Puluh Kota memberikan bantuan paket pangan untuk guru di Kenagarian Mungo, Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota. Bagi para guru, bantuan tersebut layaknya oase di tengah gurun. Pasalnya para guru sedang kesulitan memenuhi kebutuhan akibat pandemi Covid-19. 

Salah seorang guru yang menjadi penerima bantuan, Defiatul Hasanah mengatakan, banyak dari teman-temannya sesama guru honorer yang kehilangan penghasilan dari usaha sampingan. Memiliki usaha sampingan merupakan jalan keluar bagi para guru honorer agar bisa memenuhi kebutuhan. Namun akibat pandemi, usaha juga sepi pembeli.

Meskipun tengah sulit, namun semangat guru tidak berkurang. Defiatul mengaku setiap hari tetap ke sekolah membawa serta anaknya yang berumur tiga tahun. Hal ini ia lakukan lantaran jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh dan tidak ada yang mengasuhnya di rumah.

“Pandemi buat ekonomi saya dan teman-teman guru honorer semakin sulit. Yang punya usaha sampingan juga usahanya sepi. Mereka usaha  karena tidak cukup jika hanya mengandalkan gaji guru. Tapi teman-teman tetap mengajar, semangatnya tidak berkurang,” kata Defiatul, Rabu (7/7/2021). 

Sama seperti Defiatul, guru honorer yang lain, Asmila Orita mengungkapkan pandemi Covid-19 tidak menghalanginya untuk tetap mengajar. Usai mengajar di sekolah, siang harinya Asmila mengajar ngaji anak-anak di madrasah. Padahal jarak antara rumahnya dengan madrasah cukup jauh, 7 kilometer. 

“Setiap mengajar anak yang kecil (4 tahun) saya tinggal. Mungkin waktu buat dia sedikit, karena ditinggal mengajar pagi hingga sore. Ketemunya siang pulang ngajar di sekolah sama sore nanti. Tetapi mau gimana lagi? Gaji guru kurang, jadi harus cari-cari tambahan,” kata Asmila. 

Asmila menjelaskan pandemi berdampak pada perekonomiannya. Sebagai guru honorer, pembayaran gajinya seringkali dirapel selama dua hingga tiga bulan sekali. Hal ini membuat Asmila beberapa kali harus berutang ke tetangga. “Mau bagaimana lagi?” pungkas Asmila. []