Kondisi Ekonomi Guru Honorer Masih Prasejahtera

Menjelang Hari Guru pada 25 November mendatang, masih tingginya jumlah guru honorer berpenghasilan rendah seakan menjadi pekerjaan rumah bersama. Mereka yang telah mengabdikan diri untuk pendidikan negeri butuh perhatian lebih.

Kondisi Ekonomi Guru Honorer Masih Prasejahtera' photo
Salah satu guru di Sikakap, Mentawai. Guru-guru di sana digaji Rp 500 ribu, itu pun tak jarang dirapel per tiga bulan. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAKARTA – Beberapa waktu lalu sempat viral video tentang guru honorer di Pandeglang, Banten yang harus menempuh jarak 3 kilometer dengan berjalan kaki menuju sekolah. Tak ada aspal, hanyalah jalan setapak yang akan menjadi lumpur di kala hujan. Jalan itu yang harus ditempuh sang guru untuk sampai di sekolah demi mengajarkan anak muridnya.

Guru di Pandeglang itu merupakan salah satu di antara ratusan ribu perjuangan guru-guru di Indonesia. Belum lagi bagi yang masih berstatus guru honorer. Gaji mereka tak seberapa, yakni di rentang angka Rp 150-500 ribu saja. Itu pun tak jarang harus dirapel karena pihak sekolah tak tiap bulan memiliki dana untuk membayar jasa guru-gurunya.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan Supriano di dalam rilis 21 Oktober 2019 lalu mengatakan, di akhir tahun 2017 lalu guru honorer di Indonesia terdata 735.825 orang. Sedangkan pada Desember 2018 terdapat kenaikan angka hingga 41 ribu orang.

Aksi Cepat Tanggap mendata dari berbagai sumber, setidaknya ada 10 provinsi yang memiliki jumlah guru honorer terbanyak. Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatra Utara dan Sumatra Selatan menempati posisi 1-5. Sedangkan di posisi 6-10 terbanyak memiliki guru honorer ada di Sulawesi Selatan, Banten, Lampung, Nusa Tenggara Timur dan Aceh.

Direktur Program ACT Wahyu Novyan mengatakan, guru honorer di berbagai pelosok negeri banyak yang mereka menikmati gaji yang sangat kecil. “Di Mentawai misalnya, di salah satu sekolah di Sikakap digaji 500 ribu per bulan. Itu pun tak dibayar tiap bulan karena keadaan perekonomian sekolah yang tak menentu. Walau begitu, para pengabdi negeri ini tak kenal lelah membimbing penerus bangsanya,” ungkap Wahyu, Kamis (21/11).


Lukman sedang mengajar di SMP Terbuka 17 Bekasi. Ia merupakan salah satu guru honorer. (ACTNews/Eko Ramdani)

Gaji yang sangat kecil ini sangat tak berbanding dengan kebutuhan sehari-hari yang diperlukan oleh keluarga guru. Oleh sebab itu, tak sedikit dari mereka yang harus bekerja lagi sepulang mengajar. Lukman misalnya. Guru honorer di Sekolah Menengah Pertama Terbuka 17 Bekasi sepulang mengajar akan melanjutkan pekerjaan sebagai pengemas produk madu. Usaha ini ia lakukan demi mencukupi kebutuhan keluarganya.

“Kalau menggantungkan pemasukan dari mengajar saja tak cukup ya, tapi tak masalah. Saya mengabdikan diri sebagai guru, mengajarkan anak-anak yang sebagian besar datang dari keluarga perekonomian prasejahtera,” tutur Lukman, Kamis (21/11).

Menjelang Hari Guru yang jatuh pada tanggal 25 November mendatang, masih banyaknya jumlah guru honorer prasejahtera menjadi  refleksi bersama. Mereka yang telah mengabdikan diri untuk pendidikan negeri butuh perhatian lebih. Untuk itu, bertepatan dengan Hari Guru 2019, ACT akan meluncurkan program Sahabat Guru Indonesia. “Program ini akan memberikan tunjangan kepada guru-guru honorer di seluruh Indonesia, terlebih mereka yang masih bergaji tak menentu dan rendah,” jelas Wahyu Novyan.[]

Bagikan

Terpopuler