Kondisi Guru Honorer di Bogor Selama Pandemi, Gaji Dirapel hingga Harus Menahan Malu Berutang

Kondisi guru honorer di Kabupaten Bogor semakin terpuruk. Harus menahan malu berutang ke warung lantaran gaji sebagai guru honorer dibayar empat bulan sekali.

guru honorer do bogor
Nurifatul saat sedang memberikan pengajaran di kelas. (ACTNews)

ACTNews, KABUPATEN BOGOR – Pandemi Covid-19 adalah cobaan yang berat bagi guru-guru honorer sekolah dasar di Pasir Angsana, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Gaji yang biasanya dirapel tiga bulan sekali, menjadi empat bulan sekali. Tak hanya itu, sumber penghasilan lainnya juga tertutup. 

Salah seorang guru honorer Samuji (38) mengatakan, status guru honorer sudah ia sandang sejak mengajar 10 tahun silam. Kini impiannya untuk menjadi Pegawai Negeri SIpil (PNS) tertutup lantaran batasan umur. Meski kondisi ekonomi guru honorer saat ini terpuruk, Samuji tetap bertahan menjalani profesinya. 

“Karena pandemi gaji dirapel empat bulan sekali. Gaji per bulan Rp500 ribu. Digunakan untuk menafkahi istri dan tiga orang anak. Ini sudah menjadi risiko guru honorer. Harus berpikir keras agar dapur bisa ngebul dan anak-anak bisa bersekolah. Ditambah ada pengeluaran tambahan untuk membeli pulsa agar bisa mengajar online,” kata Samuji, Senin (2/8/2021). 

Kondisi serupa juga dialami guru honorer yang lain, Nurifatul.  Bahkan Nurifatul harus berutang ke warung agar bisa makan. Suami Nurifatul bekerja sebagai pengemudi ojek daring dengan penghasilan tak menentu. 

“Sekarang kebutuhan hanya dari gaji guru yang dibayar tidak tepat waktu tiga sampai empat bulan. Saya suka malu kalau tidak ada beras di rumah, harus utang ke warung bayarnya sampai tiga bulan. Mau bagaimana lagi? Saya cuma bisa berdoa semoga Allah memberikan suami saya pekerjaan,” kata Nurifatul. 

Melihat kondisi tersebut, Global Zakat-ACT memberikan bantuan biaya hidup dan paket pangan dari Sahabat Dermawan, Senin (2/8/2021). Atas bantuan yang diberikan, para guru honorer mengucapkan terima kasih. []