Kondisi Prasejahtera, Sugeng Tetap Semangat Mendidik

Sugeng yang telah mengabdi selama 12 tahun, kini tidak bisa mengajar mata pelajaran lagi karena terbentur masalah sertifikasi pengajar. Ia saat ini hanya mengajar ekstrakulikuler. Dengan gaji sekitar Rp600 ribu, ia mesti menghidupi ibu, adik perempuan, serta keponakannya yang yatim.

Kondisi Prasejahtera, Sugeng Tetap Semangat Mendidik' photo
Sugeng mengajar anak didiknya. (ACTNews/Deddi Wahid)

ACTNews, SRAGEN – Sugeng Jadmiko mesti legawa. Gelar diploma 3 pendidikan yang ia raih kurang memenuhi syarat untuk mengikuti sertifikasi di tahun 2020 ini. Otomatis ia yang sebelumnya mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris, tidak diperbolehkan mengajar mata pelajaran tersebut lagi.

Namun begitu, pihak sekolah tidak serta merta memberhentikan Sugeng. Ia masih diperkenankan oleh pihak sekolah untuk mengajar program ekstrakulikuler Pramuka dan Harpala.

Sugeng masih bisa mendapatkan gaji sebesar Rp617.500,00 setiap bulan dengan mengajar ekstrakulikuler. Tetapi kini gaji yang ia terima tidak lagi penuh. Pasalnya, Sugeng harus membayar pinjaman dana untuk mengobati penyakit fistula ani yang diidapnya beberapa waktu lalu. Belum lalgi ia juga harus menafkahi ibunya yang sudah tua serta adik perempuan dengan dua anak yang telah menjadi yatim.


Sugeng mendapatkan bantuan beaguru dari Global Zakat-ACT. (ACTNews/Deddi Wahid)

Melalui program Sahabat Guru Indonesia, Global Zakat - ACT menyalurkan bantuan biaya hidup untuk Sugeng yang telah mengabdi selama 12 tahun pada Kamis (6/2) silam. Ardiyan Sapto dari Tim program ACT Solo mengatakan bahwa bantuan yang diberikan Global Zakat-ACT merupakan apresiasi terhadap para guru honorer yang rela mengabdi untuk mengajar meskipun mendapatkan gaji yang  belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


“Semoga program Sahabat Guru Indonesia ini dapat bermanfaat bagi guru-guru prasejahtera di Indonesia, khususnya di wilayah Solo Raya. Sehingga, ini dapat menyemangati mereka untuk terus mendidik siswa-siswi sebagai generasi penerus bangsa yang baik dan cerdas,” ujar Ardiyan.

Sugeng berterima kasih dengan hadirnya bantuan dari Global Zakat-ACT. Ia menyampaikan bahwa kondisi yang dialaminya bukan menjadi alasan untuk dia berkeluh kesah tiap harinya. Akan tetapi, kondisi tersebut membangun keikhlasan dan niat untuk selalu berbuat baik kepada sesama.

"Menjadi guru itu bukan profesi, tapi sebagai ladang amal jariah kita. Sebab ilmu tidak akan pernah mubazir. Ia akan selalu ada sekalipun kita telah tiada di dunia ini," tutur Sugeng. []

Bagikan