Korban Banjir Bengkulu: Buka Puasa Pertama di Bawah Tenda

Warga Dusun Air Merah menjalani Ramadan ini di tenda-tenda darurat.

Korban Banjir Bengkulu: Buka Puasa Pertama di Bawah Tenda' photo

ACTNews, BENGKULU TENGAH – Sekitar empat setengah kilometer ke arah timur dari Jalan Raya Padang-Bengkulu, Dusun Air Merah berada. Kubangan lumpur dan tanah merah mendominasi jalan kebun menuju dusun. Kendaraan yang melintas harus bergantian, terutama sepeda motor, medan yang licin bisa membuat roda kendaraan tergelincir.

Di tengah kebun sawit itu, salah satu dusun terdampak banjir masih mengalami kerusakan. Hingga sebelas hari pascabanjir melanda, penduduk Dusun Air Merah belum bisa menempati rumah mereka karena masih tertimbun lumpur. Masyarakat pun menggunakan tenda dan musala dusun untuk tempat tinggal.

Listi (40), salah satu warga dusun Air Merah, sedang menanak nasi sore itu. Ia sedang mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Listi adalah salah satu ibu rumah tangga yang masih mengungsi di tenda. Ia mengatakan, rumahnya masih dipenuhi lumpur. Selain dengan keluarga, tenda terpal itu ditempati tiga keluarga lainnya. “Kami gunakan tenda ini, tidur juga di masjid. Rumah belum bisa ditempati,” katanya.

Hal yang sama pun dialami Yusriani (43). Rumah perempuan asal Palembang tersebut masih tidak layak huni. Ia pun mengajak tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) – ACT melihat kondisi rumahnya terkini. Lumpur setinggi 15 sentimeter masih membenam lantai rumah Yus, membenam sepatu bot yang dikenakan tim.


Gelap menyambut kedatangan tim saat memasuki rumah Yus. Hingga Senin itu, listrik memang belum kembali dialirkan ke rumah-rumah warga terdampak banjir. “Hingga saat ini listrik belum dinyalakan. Pernah dicoba, tapi keluar asap. Takut korslet. Jadi, kami masih harus tinggal di tenda atau musala,” jelasnya, Senin (6/5).

Dalam keadaan keterbatasan itu pula Yus dan warga Dusun Air Merah harus menjalani Ramadan. Namun, bagi Yus, Ramadan harus dijalankan sebaik mungkin. “Sangat berbeda ya pasti dengan Ramadan tahun lalu. Tahun lalu kita persiapan ini itu menjelang Ramadan, tahun ini.. ya seperti ini. harus prihatin,” ungkapnya. Bahkan, Yus tidak yakin bila rumahnya sudah bisa ditempati hingga Idulfitri tiba. Yus mengaku, belasan tahun hidup di Dusun Air Merah, baru kali itu banjir melanda hingga meluluhlantakkan permukiman warga.

Selain menyapa sejumlah warga Dusun Air Merah di hari pertama Ramadan, tim juga mengantarkan ratusan porsi makanan siap santap bagi warga dusun Air Merah. Makanan siap santap itu dihidangkan dari Dapur Umum ACT di Kecamatan Pondok Kelapa.

Koordinator Disaster Emergency Response Sutaryo mengatakan, ACT menyediakan makanan siap santap untuk menu berbuka warga terdampak banjir. “Kami membagikan 300 porsi makanan berbuka puasa untuk warga terdampak banjir Dusun Air Merah,” lapor Sutaryo.


Yusriani selaku Ketua RT 04 Dusun Air Merah mengatakan, ia amat bersyukur mendapat bantuan makanan iftar sore itu. Menurutnya, hidangan berbuka puasa dari Dapur Umum ACT mampu meredam keterbatasan masyarakat dalam mencari bahan makanan. “Tadi kami berpikir mau makan apa, harus cari sayur dulu keluar (jalan raya). Alhamdulillah datang makanan ini,” ungkapnya. Makanan siap santap itu pun menjadi hidangan buka puasa di hari pertama Yus dan warga dusun lainnya yang mengungsi di tenda darurat.

Hingga Senin lalu, warga Dusun Air Merah masih bertahan di tenda-tenda darurat akibat kondisi rumah yang hancur maupun terendam lumpur banjir. Banjir besar melanda delapan kabupaten dan satu kota di Provinsi Bengkulu pada Jumat (26/4) lalu. Kabupaten Bengkulu Tengah, tempat Dusun Air Merah berada menjadi wilayah yang terdampak parah. []

Bagikan