Korban Gempa Majene Menyambung Hidup dari Hasil Kebun

Sejak gempa bumi melanda Majene pada Kamis (14/1/2021) sore, warga berbondong-bondong mengungsi ke kebun-kebun yang ada di atas perbukitan. Mereka menghindari tepian laut karena khawatir tsunami dan bertahan hidup dengan hasil kebun dan minim bantuan.

Hidayatullah dan keluarganya yang mengungsi di kebun yang ada di Desa Lombong, Kecamatan Malunda, Majene, Senin (18/1/2021). Sejak gempa pertama terjadi pada Kamis (14/1/2021), ia mengajak seluruh anggota keluarga mengungsi di kebun dan bertahan hidup dengan hasil alam yang ada karena minim bantuan. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, MAMUJU – Sejak Kamis (14/1/2021) sore, Hidayatullah mengajak istri dan dua anaknya yang masih kecil serta ibunya yang telah lansia untuk mengungsi pascagempa mengguncang Majene dengan magnitudo 5,9. Gempa tersebut terasa begitu besar di tempat tinggal Hidayatullah yang ada di Desa Lombong, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene. Untuk itu, ia segera mengevakuasi diri dan keluarganya, begitu juga para tetangga di kampungnya. Perbukitan dan kebun-kebun yang jauh dari pesisir pantai menjadi tempat mengungsi karena warga khawatir akan kemungkinan tsunami.

Pilihan untuk mengungsi ketika gempa pada Kamis sore seakan pilihan tepat bagi Hidayatullah dan keluarga. Pasalnya, pada Jumat dini hari, atau selang beberapa jam dari gempa pertama, gempa susulan dengan kekuatan yang lebih besar mengguncang Majene bahkan hingga berdampak di Mamuju. Rumah Hidayatullah mengalami kerusakan, beruntung ia dan seluruh anggota keluarganya tak mengalami luka sedikit pun.

“Mungkin kalau enggak mengungsi dari Kamis sore itu, keluarga kami jadi korban runtuhan rumah,” ungkap Rahmah, istri Hidayatullah, Senin (18/1/2021) saat ditemui oleh ACTNews di kebun yang ada di atas bukit Desa Lombong.

Selamat dari reruntuhan rumah bukan berarti permasalahan Hidayatullah dan keluarganya selesai. Kini, mereka menjadi penyintas bencana tanpa memiliki persiapan. Empat hari sejak gempa, mereka tinggal di dalam satu tenda bersama dua keluarga lainnya yang berasal dari desa yang sama, Lombong. Tenda yang terbuat dari terpal itu pun hanya menjadi atap saja, sekeliling tenda tanpa sekat, begitu juga alas langsung tanah.

Sejak gempa melanda, hujan sering mengguyur Desa Lombong. Hal ini berpengaruh besar pada kondisi para penyintas. Terlebih mereka tidak memiliki persiapan, sehingga banyak yang bertahan di bawah tenda pengungsian dalam kondisi yang memprihatinkan.

“Anak saya ini tidur malam pakai sarung basah, dan enggak ada ganti karena mengungsi hanya bawa pakaian yang menempel saja. Alasnya pun tanah, jadi kami tidur di atas tanah becek. Pas sudah sangat dingin, saya bakar pakaian dan sarung anak saya untuk penghangatan,” tutur Hidayatullah.

Bertahan hidup

Seperti para penyintas bencana pada umumnya di Majene, Hidayatullah mendirikan tenda di kebun dan berjarak dengan tenda peyintas lainnya. Ia pun mendirikan tenda cukup jauh dari Jalan Poros Mamuju-Majene yang menjadi jalur utama lalu-lalang relawan dan bantuan. Hal ini membuat Hidayatullah hingga hari ke lima pascagempa baru mendapatkan bantuan satu kali, itu pun berupa mi instan dan beras saja.

“Kemarin baru ada bantuan mi ini saja. Untuk tambahan gizi makan anak, saya belikan jagung,” ungkapnya.

Untuk menambah asupan pangan, Hidayatullah mengonsumsi hasil kebun di tempat ia mendirikan tenda. Bukan kebun miliknya sendiri memang, namun ia telah meminta izin kepada sang pemilik untuk memanfaatkan ubi dan kelapa yang ditanam. Pemilik kebun memberikan izin untuk Hidayatullah menikmati hasil kebun tersebut dengan syarat tidak untuk diperjual-belikan.

Hingga saat ini, Hidayatullah masih bertahan di tenda pengungsian. Kondisi tempat tinggal sementaranya itu pun lebih baik dibanding hari pertama ia mengungsi. Alasnya telah dibuat lebih tinggi serupa panggung agar anaknya tak terlalu merasakan dinginnya tanah. Akan tetapi, terpal sebagai atapnya masih terdapat lubang yang membuat air hujan mudah masuk, begitu juga sekat dinding yang tidak ada. “Kami juga takut kalau di pengungsian yang ramai begitu karena ada corona,” jelas Hidayatullah.[]