Korban Gempa Maluku Krisis Air Bersih

Enam bulan lamanya setelah gempa M6,5, warga Maluku masih bertahan di pengungsian akibat rumah mereka hancur. Kini mereka hidup dengan fasilitas yang minum, termasuk air bersih.

Korban Gempa Maluku Krisis Air Bersih' photo
Para pengungsi gempa Maluku hingga kini masih tinggal di tenda-tenda yang terbuat dari terpal. (ACTNews)

ACTNews, AMBONPascagempa 6,5 skala magnitudo pada 26 september 2019 lalu, para warga Maluku dan sekitaran Kota Ambon mengungsi ke dataran yang lebih tinggi. Menjelang enam bulan gempa berlalu, tepatnya pada Selasa (17/3) lalu, para penyintas gempa masih bertahan di bawah tenda pengungsian dengan kesulitan pasokan air bersih.

Sepuluh ribu jiwa masih bertahan di kamp pengungsian di Desa Liang dan Desa Waii karena sebagian rumah mereka telah runtuh. Di pengungsian, mereka sulit mendapatkan air bersih. Sekalipun ada, air yang mereka gunakan dalam kondisi kurang layak. Sementara mereka akan tetap bertahan hingga Ramadan nanti.

Kondisi ini diakui Rahima Lessy, salah satu penyintas gempa di Puncak Menderita, Desa Liang, Kabupaten Maluku Tengah. Ia mengatakan untuk mendapatakn air bersih sangat sulit. Pemerintah pun, tidak lagi mendukung suplai air bersih di tenda-tenda pengungsian. “Sehingga kami harus berpatungan dengan para korban gempa lainya untuk membeli air bersih,” ujar Rahima.


Salah satu kondisi dalam tenda pengungsi. (ACTNews)

Ia harus menjual sayur yang siap panen di pengungsian, untuk bertahan hidup dengan dua cucu dan suaminya. “Katong sudah mau masuk enam bulan di tenda. Kami berharap agar pemerintah maupun dari lembaga manapun dapat menyuplai air bersih dan air minum untuk kami, untuk membatu kehidupan kami di tenda pengungsian,harapnya.

Wahab Loilatu selaku Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap (ACT) Maluku mengatakan, mereka akan terus berikhtiar membantu para penyintas gempa. Ia berharap ke depannya, kepedulian masyarakat dapat terus mengalir untuk korban terdampak karena mereka masih sangat membutuhkan.


“Kondisinya sangat membutuhkan bantuan di sini. Apalagi masyarakat juga sudah tinggal cukup lama di pengungsian. ACT insyaallah akan terus membersamai para pengungsi hingga keadaan kembali normal dan harapan kami masyarakat dapat terus tergerak untuk membantu mereka yang membutuhkan,” kata Wahab.

Kepedulian untuk kepada penyintas gempa di Maluku terus diberikan. Seperti akhir Februari silam, ACT dan Drw Skincare menghadirkan fasilitas MCK untuk para pengungsi di dua desa tersebut. MCK yang dibangun tersebar di lima dusun, yakni Dusun Angke, Dusun Attawai, Puncak Bum-bun, Dusun Wa Osa, dan Dusun Waehula. 

Selain itu pada Januari lalu, Ikatan Perawat Muslim Indonesia (IPMI) Jepang bersama ACT Maluku berkolaborasi untuk mendistribusikan air bersih untuk memenuhi kebutuhan para penyintas gempa di Maluku Tengah. Air bersih tersebut didistribusikan kepada warga Desa Waai dan Desa Liang. Selama satu bulan, sebanyak 150.000 liter air didistribusikan dengan jumlah 5.000 liter air per harinya. []


Bagikan