Korban Gempa Masih Trauma, Dukungan Psikososial Amat Penting

Ketakutan dan kecemasan masih dirasakan korban gempa Pasaman Barat. Dukungan psikososial amat diperlukan untuk menanggulangi keadaan tersebut.

ketakutan pengungsi
Ilustrasi. Dukungan kesehatan untuk para pengungsi diperlukan, baik dalam bentuk fisik maupun mental. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, KABUPATEN PASAMAN BARAT – Gempa magnitudo 6,1 dan gempa-gempa susulan setelahnya yang mengguncang Pasaman Barat masih menyisakan ketakutan untuk sebagian korban. Tenda-tenda masih warga dirikan sebagai antisipasi tempat tinggal bila gempa kembali terjadi.

Aslen, warga Lubuak Sariak, Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, bercerita, Ia bersama anak dan cucu yang berjumlah delapan kepala keluarga, masih tinggal di satu tenda besar. Aslen bercerita, anak-anak tidak ingin tinggal di dalam rumah. 

“Kalau gemuruh anak-anak masih takut, semua menangis,” ungkap Aslen ditemui Tim ACTNews pada Rabu (2/3/2022).

Begitu juga Santi. Ia mengungsi bersama dua orang anak dan suami di Halaman Kantor Bupati Pasaman Barat. Santi sempat mengajak anak dia yang berumur sebelas tahun untuk kembali ke rumah, sekadar menyelamatkan yang tersisa. Namun anak-anaknya enggan kembali.


Anak-anak menjadi salah satu golongan yang rentan terdampak ketakutan pascabencana. (ACTnews/Reza Mardhani)

“Sudah sempat saya ajak pulang, dia enggak mau, kayaknya trauma,” Santi juga mengatakan ia sendiri masih takut saat terjadi gempa susulan. Jika sedang tidur dan ada gempa susulan, ia langsung lari.

Demikian juga Safri, pengungsi yang lain, ia masih takut jika ada gempa susulan. Di halaman rumah panggungnya, Safri memasang terpal sebagai tenda dan membawa kompor untuk masak. “Belum ke mana-mana. Mau ke sawah juga masih takut,” cerita Safri yang sedang memasak di teras rumah, Ahad. Selain dihuni oleh keluarga dekat, rumah panggung milik Safri juga menjadi tempat mengungsi bagi warga sekitar. Safri memperkirakan, ada sekitar 40 atau 50 orang yang menghuni rumahnya.


Dokter Arini Retno Palupi dari Tim Humanity Medical Sevices Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengatakan, ketakutan yang terjadi pascabencana memang lazim ditemui. Namun, hal ini juga penting untuk diatasi.

“Terutama untuk anak dan ibu yang memang kebanyakan mengalami panik dan gangguan cemas. Maka kita perlu berikan dukungan agar tidak berkelanjutan menjadi sebuah gangguan kesehatan mental,” ujar Dokter Arini.

Dokter Arini mengatakan, Tim Humanity Medical Services ACT menjelaskan, tidak hanya menjaga kesehatan fisik, HMS juga akan memberikan layanan psikososial bagi penyintas.

“Kami sebut dengan dukungan psikososial dan kesehatan jiwa. Biasanya kami adakan setelah dua pekan pascagempa. Kami akan bekerja sama dengan psikolog dan psikiater untuk bisa mengadakan kegiatan ini,” ungkap Dokter Arini.[]