Korban Longsor Enggan Kembali Pulang

Kampungnya telah dilanda bencana, membuat penghuninya pergi mengungsi meninggalkan kampung. Saat ini rasa trauma masih melanda, membuat warga di daerah terdampak bencana longsor di Bogor masih enggan kembali ke tempat tinggal mereka.

Korban Longsor Enggan Kembali Pulang' photo
Kondisi longsor di Cigudeg, Kabupaten Bogor. Jalan ini menjadi akses keluar-masuk warga Sukajaya yang mengungsi ke luar daerah. (ACTNews)

ACTNews, KABUPATEN BOGOR Sambil menggendong anaknya yang baru berusia satu tahun, Wulan berdiri di depan tenda pengungsian, Ahad (5/1). Ia terus mengajak anak keempatnya itu berbicara, coba menghibur di antara duka warga korban bencana tanah longsor di Kampung Sibentang, Desa Jayaraharja, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Sudah empat hari anak Wulan yang paling kecil ini suhu tubuhnya naik. Ia mengalami demam.

Wulan dan anak-anaknya merupakan bagian dari ratusan pengungsi dari Kampung Sibentang. Mereka mengungsi di salah satu petak sawah yang aman dari bencana longsor. Kondisi pengungsian pun seadanya saja, hanya terbuat dari terpal yang banyak memiliki lubang serta alas karung yang akan basak tiap kali hujan melanda.

“Ukurannya memang tidak luas, jumlah pengungsinya lebih dari seratus jiwa dari satu kampung, ya berdesak-desakan gini, mau bagaimana lagi,” jelas Wulan.

Memang, tak ada pilihan lain bagi Wulan dan ratusan pengungsi lainnya dari Kampung Sibentang. Saat ini, kampung tersebut kosong, ditinggalkan oleh seluruh penghuninya karena ancaman longsor. Tanah di perkampungan itu telah mengalami keretakan dan rawan runtuh saat hujan deras melanda.


Longsor yang terjadi di Kampung Sinar Harapan, Senin (6/1). Tiga orang masih dinyatakan hilang setelah terjadi longsoran ini. (ACTNews/Eko Ramdani)

Wulan mengaku, enggan kembali tinggal di Kampung Sibentang. Saat ini ia mengharapkan adanya relokasi karena perkampungan tempat tinggalnya rawan terjadi bencana. “Saya enggak mau lagi balik ke sana (Sibentang),” ucap Wulan kepada ACTNews, Ahad (5/1).

Hal yang sama juga dirasakan oleh Asep, warga Kampung Sinar Harapan, Desa Harkat Jaya, Sukajaya. Sebagian permukiman di Kampung Sinar Harapan yang diterjang longsoran besar dari bukit di belakangnya yang kini hancur. Tidak hanya menimbun permukiman, longsor juga memakan korban jiwa dan beberapa warga masih dinyatakan hilang. Seluruh penghuninya kini mengungsi, termasuk Asep, yang belum tau kapan berani kembali ke rumahnya di Sinar Harapan.

“Saya dan keluarga sepertinya enggak mau lagi tinggal di sana (Sinar Harapan),” ungkap Asep yang bekerja sebagai pedagang di Jakarta, Senin (6/1).

Sampai saat ini, titik-titik pengungsian masih dipenuhi pengungsi. Mereka merupakan warga dari kampung-kampung yang terdampak bencana tanah longsor. Setelah bencana tanah longsor di Bogor, warga berbondong-bondong meninggalkan kampung mereka. Tak ada kehidupan penduduk hingga satu pekan pascabencana. Perkampungan sepi.

Kini, harapan warga yang kampungnya berada di bawah ancaman bencana hanyalah relokasi. Mereka masih tak berani kembali dan memilih bertahan di pengungsian.[]

Bagikan