Krisis Air dan Suhu Panas Hantui Pengungsi Yaman

Krisis Air dan Suhu Panas Hantui Pengungsi Yaman

Krisis Air dan Suhu Panas Hantui Pengungsi Yaman' photo

ACTNews, DJIBOUTI – Suhu di sekitar kamp pengungsian Markazi terasa panas, bisa mencapai 35 derajat Celsius. Belum lagi, keadaan listrik yang putus-nyambung membuat unit-unit baja tempat para pengungsi Yaman tinggal semakin panas, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera , Jumat (1/3).

Ahmad Muhammed Ali, seorang pemuda Yaman mengungsi di Kamp Markazi. Selama tiga tahun ia dan keluarganya tinggal di tenda bantuan PBB di Kamp pengungsian Markazi. Anak tertua itu menjadi penanggung jawab atas ibu dan saudara-saudaranya setelah ayah mereka meninggal.

Ali menceritakan, kehidupan sebagai pengungsi di Kamp Markazi penuh dengan tantangan, terutama ketersediaan listrik. “Kami mendapat empat jam pertama aliran listrik di pagi hari dan empat jam lagi di sore hari,” jelas Ali kepada Al Jazeera.

Kepada Al Jazeera, sejumlah penghuni menyatakan khawatir datangnya musim panas dengan badai pasir yang mengerikan, mereka menyebutnya “khamsin”. Saat khamsin terjadi, suhu bisa mencapai 50 derajat dan kecepatan angin hingga 60 knot per jam.

Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mengaku akan membantu pemerintah Djibouti dalam menjaga kekondusifan hidup para pengungsi di Kamp Markazi, Djibouti. “Kami berharap akan ada kelanjutan dana untuk listrik di musim panas bagi orang-orang yang tinggal di unit (Kamp Markazi),” terang Vanesa Panalingan dari bagian Media dan Hubungan Masyarakat PBB untuk wilayah Djibouti.

Vanesa mengkhawatirkan, bila listrik tetap tidak berjalan maksimal menjelang musim panas tiba, para pengungsi akan kembali ke tenda mereka. “Pasir di mana-mana. Mereka akan lebih terlindungi dari angina panas, pasir, dan debu-debu yang menyertainya di rumah unit mereka,” tambah Vanessa.

Sementara itu, ratusan pengungsi di Kamp Malaka Provinsi Hajjah, Yaman, sulit mendapatkan air bersih. Sekitar 500 keluarga tinggal di wilayah ini. Dulu di wilayah itu, air bersih pernah dipasok  lembaga sosial internasional, namun kini tangka-tangki penampungan air kosong.

Di wilayah lain, Abdu Ali, seorang anak pengungsi internal, harus menghabiskan waktu lebih dari tiga jam untuk memenuhi jeriken. Setiap hari ia mencari air untuk kebutuhan keluarganya.

“Saya tidak dapat melanjutkan sekolah. Setiap hari saya hanya mencari air kami telah menjadi pengungsi lebih dari empat tahun. Awalnyan kami mengungsi ke Kamp Haquf, namun kami harus berpindah ke tempat ini, di sini sulit mendapatkan tempat tinggal, makanan, obat-obatan atau pun air,” cerita Abdu kepada Al Jazeera. Bertahan hidup dari kelaparan dan krisis air bersih adalah sejumlah usaha yang dilakukan pengungsi Yaman untuk bertahan di tengah perang saudara yang berkepanjangan. []

Sumber foto: Al Jazeera

Bagikan