Krisis Air di Wilayah Pesisir

Indonesia menduduki peringkat ke-51 sebagai negera dengan risiko kelangkaan air tertinggi di dunia. Salah satu wilayah yang telah merasakan krisis ini ada di pesisir Bekasi.

krisis air bekasi
Anak-anak di Kampung Singkil Sasak, Desa Samudrajaya, Tarumajaya, Bekasi, sedang melintasi jembatan di sungai yang seringkali airnya dipakai oleh warga setempat untuk kebutuhan sehari-hari. (ACTNews)

ACTNews, BEKASI Kawasan pesisir Bekasi selain menyimpan beragam potensi laut, juga memiliki persoalan yang nyatanya hingga kini belum dapat teratasi optimal. Alih-alih percepatan kenaikan permukaan air laut, penurunan permukaan tanah, hingga ancaman tenggelam sebagai dampak pemanasan global yang belakangan santer terdengar, warga di kawasan pesisir Bekasi justru mengalami persoalan yang tak kalah pelik, yakni krisis air bersih.

Hal ini tampaknya sejalan dengan laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada 9 Agustus 2021 yang dilansir dari Kompas.id. Laporan tersebut menyatakan, perubahan iklim sudah tidak terkendali. IPCC memperingatkan, krisis air menjadi salah satu ancaman akibat perubahan iklim.

Seorang warga Kampung Sisik Sangkal, Desa Samudrajaya, Tarumajaya, Bekasi, Isah (60) mengungkapkan, krisis air bersih dialaminya sejak ia tinggal dan menetap di kampung tersebut. Isah dan warga seringkali mengalami krisis air bersih baik ketika musim kemarau maupun musim hujan.

Hingga kini, Isah mengatakan, 100 lebih keluarga yang ada di kampung tersebut hanya bisa mengandalkan satu-satunya sumber air bersih yang biasa mereka sebut sebagai balongan.

“Biasa ngambil di balongan, setiap pagi sama sore ambil dua jeriken. Tapi antre, apalagi kalau lagi musim kering begini. Sulit kami kalau musim kemarau begini,” kata Isah.

Namun, selain balongan, menurut Isah, ada saja warga yang terpaksa mengambil air sungai untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci, terutama saat musim hujan karena kondisinya lebih baik. Apabila musim kemarau, air tersebut menjadi asin dan menghitam.

“Kalau buat masak kita beli, dua hari sekali. Pernah juga kita coba bikin sumur bor tapi karena enggak dalam, airnya asin, enggak ada hasil jadinya,” katanya.

Kesulitan air juga dialami oleh warga di kampung lainnya. Santi, seorang ibu rumah tangga di Kampung Sukaduri, mengatakan, sumber air di wilayahnya hanya terdapat satu sumur, itu pun kondisinya sudah memprihatinkan, sebab, mesin pompa yang butuh perbaikan. Krisis air diperparah ketika musim kemarau tiba.

“Jadi ya ngantre, angkut airnya juga sekuatnya saja. Dari pagi sama sore itu (sumur) dipakai sama warga sekampung, kurang lebih ada kali 50an KK, kecuali kalau air kali lagi adem (bening) itu banyak juga yang ambil dari air kali buat mandi sama cuci, daripada antre kelamaan, jadi yang ada aja dipakai,” tuturnya.

Kondisi tersebut diakui Santi dialami sejak ia masih berusia anak-anak. Miris memang, sebab, air bersih seolah masih menjadi barang mewah yang langka bagi warga di Tarumajaya, Bekasi. Baik di Kampung Sisik Sangkal dan Kampung Sukaduri, mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan dengan pendapatan yang tidak menentu, mulai dari Rp1 juta hingga paling besar Rp 2 juta. Uang tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk membeli air bersih untuk konsumsi.

“Enggak tentu, kadang juga enggak dapat sama sekali (uang). Tapi rata-rata memang pekerjaannya sebagai nelayan, ada juga serabutan,” ungkap Dwi, salah satu warga.

Warga Gampong Pondok Kelapa, Langsa, saat memanfaatkan air di kolam tadah hujan. Di sana, krisis air tengah melanda. (ACTNews)

Lima besar risiko dunia

Krisis air bersih yang menghantui warga pesisir Bekasi hanya sebagian kecil dari kasus krisis air bersih secara nasional maupun global. Namun begitu, dampak yang dirasakan oleh warga sangatlah besar. Permasalahan tersebut menjadi ancaman nyata bagi kesehatan dan kehidupan warga pesisir apabila tidak dituntaskan secara masif dan efektif.

“Tentu ini sangat berisiko buat kesehatan dan kehidupan warga di Tarumajaya, Bekasi, yang tentunya kami lembaga kemanusiaan melihatnya dari kacamata kemanusiaan. Ini masalah serius yang harus dituntaskan. Harus berapa lama lagi warga di pesisir Bekasi ini harus berhadapan dengan masalah air bersih. Ini menyangkut hidup dan mati manusia masalah air ini,” kata Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap (ACT) Bekasi Rizky Renanda.

Menurut laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF), sejak 2012 hingga 2021, krisis air termasuk dalam lima besar risiko dunia yang harus diwaspadai. Padahal, sebelumnya, menurut data 2007-2011, krisis air tidak tergolong masalah utama. Perubahan tersebut menandakan krisis air sudah meluas dan banyak dirasakan sehingga menjadi salah satu masalah sosial yang patut diwaspadai.

Perubahan iklim yang terjadi secara umum tampaknya memperburuk krisis air yang telah dialami warga pesisir Bekasi sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Selain hal tersebut, krisis air di Bekasi juga dipicu oleh kondisi geografis.

Menurut perhitungan World Resource Institute (WRI) sebagaimana dikutip dari Kompas.id, Indonesia masuk ke dalam salah satu negara yang menghadapi risiko kelangkaan air tinggi pada 2040 melalui perhitungan proyeksi kelangkaan air (water stress). Indonesia memiliki skor 3,26 dan menempati peringkat ke-51 sebagai negara dengan kelangkaan air tertinggi. Kelangkaan air terjadi ketika ketersediaan sumber daya air tidak seimbang dengan kebutuhan.

Hal tersebut terjadi karena disebabkan beragam faktor, mulai dari pertambahan penduduk, kondisi geografis, dan perubahan alam.[]