Krisis Keamanan Ancam Kehidupan Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Krisis keamanan kini melanda pengungsi Rohingya di Bangladesh, usai beberapa pengungsi meninggal diserang orang tak dikenal.

krisis keamanan rohingya
Ilustrasi. Kehidupan pengungsi Rohingya di Bangladesh kini dilanda krisis keamanan. (Reuters/Muhammad Ponir)

ACTNews, COX’S BAZAR – Kehidupan para pengungsi Rohingya di sejumlah kamp pengungsian di Cox’s Bazar, Bangladesh, makin dilanda krisis. Belum selesai berbagai permasalahan kemanusian seperti pangan, kebersihan, hingga kesehatan, kini para pengungsi harus dirundung ketakutan karena krisis keamanan.

Pada Jumat (22/10/2021) lalu, tujuh pengungsi Rohingya meninggal usai diserang oleh beberapa orang tidak dikenal. Para penyerang dilaporkan menembak empat pengungsi yang menyebabkan mereka meninggal di tempat. Sementara tiga lainnya, meninggal di rumah sakit usai ditikam dengan sebilah senjata tajam.

Dalam serangan tersebut, pihak kepolisian setempat juga menyatakan sejumlah pengungsi terluka. Sementara salah satu penyerang berhasil diamankan, dan pihak kepolisian masih mendalami motif dibalik serangan pelaku.

Penyerangan ini terjadi, di tengah meningkatnya ketegangan setelah pemimpin komunitas Rohingya, Mohibullah meninggal usai ditembak oleh orang tidak dikenal pada tiga minggu lalu. Ia ditembak di kantornya yang juga berada di area kamp pengungsian Kutopalong.

Sejumlah aktivis kemanusiaan Rohingya pun menyatakan ada rasa ketakutan besar di antara para pengungsi atas peristiwa ini, dan meminta otoritas terkait untuk lebih memperhatikan keamanan para pengungsi.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Bangladesh Asaduzzaman Khan Kamal mengatakan, sejumlah peraturan akan dibuat untuk meningkatkan keamanan di kamp-kamp Rohingya di Cox's Bazar. Di antaranya yaitu akan ada patroli berkala dari pihak kepolisian, dan dibangunnya beberapa menara pengawas. “Dukungan tenaga dan logistik dari lembaga penegak hukum akan diberikan untuk meningkatkan keamanan,” kata Kamal.


Untuk diketahui hingga saat ini, ada sekitar 1,2 juta pengungsi Rohingya yang bermukim di kamp-kamp pengungsian di Cox’s Bazar, menjadikannya sebagai kelompok kamp pengungsi terbesar di dunia. Kondisi kehidupan di dalam kamp dilaporkan sejumlah organisasi kemanusiaan, sangatlah buruk. Para pengungsi hidup dengan penuh sesak, penerangan di kamp yang sangat buruk, dan sanitasi yang kurang memadai. Penghuni kamp, ​​terutama perempuan dan anak-anak, juga sangat rentan terhadap kekerasan dan eksploitasi.[]