Krisis Kekeringan Gunungkidul, ACT Kirim Lagi Air Bersih

Krisis Kekeringan Gunungkidul, ACT Kirim Lagi Air Bersih

ACTNews, YOGYAKARTA – Hujan belum juga turun, sebagian besar wilayah Gunungkidul makin diterpa krisis kekeringan. Kering yang berakhir pada kondisi nihil air bersih telah melanda Kabupaten Gunungkidul sejak beberapa bulan terakhir. Bentuk topografi berupa dataran tinggi dan bebatuan karst makin membuat air tanah langka. Imbasnya, di masa kemarau seperti sekarang ini, Gunungkidul menjadi wilayah langganan kekeringan.

Sementara itu, upaya untuk meredam krisis kekeringan Gunungkidul terus diupayakan, salah satunya oleh segenap Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kamis (2/8) giliran Dusun Mbanyu, Desa Rejosari, Kecamatan Semin dan Dusun Jambu, Desa Jurangjero, Kecamatan Ngawen yang dikirimkan pasokan air bersih dari ACT.

Menggunakan truk tangki berkapasitas muatan tak kurang 5.000 liter, air bersih dikirimkan ke dua desa tersebut dalam waktu sehari penuh. “Ikhtiar untuk membantu masyarakat Desa Rejosari dan Desa Jurangjero dibalas senyum ceria warga setempat ketika mendapati wilayah mereka mendapat jatah satu tangki air bersih secara gratis,” ujar Agus Budi, Kepala Cabang ACT Yogyakarta.

Menengok sejenak bagaimana rupa air tanah di Dusun Mbanyu, kondisinya cukup mengkhawatirkan. Pasalnya sumur galian yang ada, airnya keruh dan memutih karena tinggal sisa-sisa air dan endapan lumpur juga karst di dasar sumur.

Mbah Sumiyem (65) warga setempat menjelaskan bahwa, di desanya sudah sejak bulan puasa lalu kesulitan air. “Sebagian sumur galian airnya sudah mengering, sebagian lagi airnya sudah keruh jadi hanya bisa untuk nyuci pakaian dan mengisi minum ternak" ujar Mbah Sumiyem.

Sementara untuk keperluan minum sehari-hari, masyarakat Dusun Mbanyu menggantungkan kebutuhannya dari satu-satunya sumur bor yang masih berfungsi. Di dusun tersebut memang ada satu sumur bor dengan kedalaman puluhan meter yang masih menyemburkan air bersih, walau kondisinya sangat terbatas. Rata-rata pembagian jatah air per keluarga dijatah seminggu sekali, sebab pasokan air yang ada di sumur bor harus dibagi rata untuk satu dusun.

Kondisi serupa juga terjadi di Dusun Jambu, Desa Jurangjero, Kecamatan Ngawen, rata-rata sumur galian di dusun ini sudah mengering hampir tak ada air sama sekali.

Warga setempat menceritakan, sudah sejak bulan puasa kemarin hanya mengandalkan kiriman truk tangki yang airnya diambil dari Kecamatan Wonosari. Untuk menebus air bersih dari truk tangki dari kecamatan itu, warga Dusun Jambu terpaksa harus menyisihkan sebagian penghasilan mereka demi membeli air untuk keperluan sehari-hari.

“Dusun Jambu ini, sumurnya sudah pada mengering Mas, ini uangnya sudah pada habis untuk membeli air bersih dari truk tangki sejak bulan puasa kemarin. Ada satu sumur PAM yang dibangun pemerintah, namun lebih sering tersendat airnya,” ujar Suwarsi (50) sembari menggendong anaknya, berbincang dengan Tim ACT DIY.

Sampai dengan awal Agustus 2018 ini, tercatat ada 13 dari 18 Kecamatan di Gunungkidul tengah mengalami kekeringan dan kelangkaan air bersih. Merespons cepat krisis air bersih ini, ACT DIY berkomitmen membantu masyarakat Gunungkidul lewat bantuan kiriman (dropping) air bersih dan pembangunan Wakaf Sumur Produktif.

“Perlahan tapi pasti kami Tim ACT DIY bergerak dari satu dusun ke dusun lainnya. Membawa truk tangki air bersih yang bisa digunakan gratis oleh warga. Selain itu di beberapa desa yang sudah kami data, kami membangun Sumur Wakaf yang dikelola oleh Global Wakaf ACT. Sumur bor digali puluhan sampai ratusan meter ke bawah tanah. Sumur yang dibangun dari dana wakaf itu Insya Allah bisa mengurai perlahan masalah kekeringan dan krisis air bersih di Gunungkidul,” ujar Kharis Pradana selaku koordinator Program ACT DIY. []

Tag

Belum ada tag sama sekali