Krisis Kemanusiaan Mengikis Generasi Muda Yaman

Enam tahun terbelenggu dalam perang sipil, anak-anak masih menjadi kelompok paling rentan di Yaman. Krisis pangan mengancam hidup 12 juta anak Yaman.

Krisis Kemanusiaan Mengikis Generasi Muda Yaman' photo
Pengungsi anak-anak di Kota Ablas, Distrik Hamdan, Kegubernuran Sanaa, Yaman membawa bantuan pangan dari dermawan Aksi Cepat Tanggap. UNICEF menyebut 12 juta anak-anak Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan. (ACTNews)

ACTNews, HAMDAN – Anak-anak menjadi pihak yang paling menderita saat perang berlangsung. Begitu gambaran yang terjadi di Yaman kini. Mengutip TRT World, PBB memperkirakan lebih dari 400 ribu balita di Yaman menghadapi malnutrisi akut. Sedangkan Reliefweb mencatat 2,2 juta anak Yaman tinggal di 75 distrik yang tidak dapat diakses bantuan kemanusiaan, menghadapi kekurangan pangan.

Laporan lebih jauh disebutkan UNICEF, perang Yaman menjadi krisis kemanusiaan terbesar di dunia dengan lebih dari 24 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk lebih dari 12 juta anak-anak.

Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response (GHR) – ACT mengatakan, melalui kepedulian dermawan, ACT terus berikhtiar meredam krisis pangan di Yaman. Seperti Januari lalu, berkolaborasi dengan Kitabisa, paket pangan berisi kebutuhan sehari-hari dibagikan kepada sejumlah keluarga di Kota Ablas, Distrik Hamdan, Kegubernuran Sanaa, Yaman.


Lebih dari 12 juta anak-anak Yaman menghadapi krisis pangan. (ACTNews)

“Paket pangan kami peruntukkan kepada pengungsi internal. Dampak perang yang menghancurkan dan melumpuhkan ekonomi, kata Faradiba. Para ibu pun terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Sebab itu, lanjut Faradiba, paket pangan diprioritaskan untuk ibu dan anak.

Mayoritas keluarga sasaran adalah keluarga paling prasejahtera yang memiliki anak yang menderita kekurangan gizi akut,” tegas Faradiba.

Jutaan masyarakat Yaman meninggalkan tempat tinggal dan pindah ke tempat yang mereka anggap lebih aman. Di tempat tinggal baru, tidak ada kesempatan kerja yang bisa mereka lakukan. Ketahanan mereka terancam dan membuat masyarakat Yaman sepenuhnya bersandar pada bantuan kemanusiaan.

Selain menderita kekurangan gizi akut, anak-anak Yaman juga terbunuh atau mengalami cacat karena perang. Menurut UNICEF, perang membuat sekolah dan rumah sakit tidak dapat lagi digunakan. Hal itu telah mengganggu akses ke layanan pendidikan dan kesehatan, membuat anak-anak semakin rentan dan kehilangan masa depan.[]


Bagikan