Krisis Lebanon: Harga Pangan Melambung dan Air Bersih Langka

Selain harga pangan yang melambung, krisis di Lebanon juga menyebabkan kelangkaan air minum. Perusahaan air Lebanon yang kolaps membuat harga air kemasan naik. Sementara itu, air keran rumah tangga yang kotor menjadi tak bisa dikonsumsi.

krisis lebanon
Krisis Lebanon turun berdampak pada pengungsi Palestina dan Suriah yang bernaung di sana. (ACTNews)

ACTNews, LEBANON – Krisis di Lebanon menjadi semakin parah. Harga pangan yang tinggi selama dua tahun terakhir, semakin melambung pascapenghapusan subsidi bahan bakar oleh Bank Sentral Lebanon pada bulan lalu. 

Kenaikan harga bensin dan solar juga membuat perusahaan air minum kemasan tidak dapat mengoperasikan truk dan pabrik pembotolan mereka. Imbasnya, harga air minum dalam kemasan di Lebanon telah meroket. Sebotol air satu liter yang sebelumnya berharga 1.000 pound Lebanon, sekarang harganya meningkat lima kali lipat. Membeli air minum pun telah menjadi beban berat untuk anggaran keluarga di Lebanon.

Infrastruktur air rumah tangga di Lebanon terbilang buruk. Air keran tidak cukup bersih untuk dikonsumsi, dan bahkan tidak menjangkau semua rumah tangga.

“Kami menyebutnya air domestik, bukan air minum. Rumah tangga yang tidak mendapatkan air negara bergantung pada truk air pribadi, tetapi harganya mahal sekarang,” ujar Elie Mansour, seorang insinyur perencanaan dan infrastruktur senior PBB.

Lebih lanjut, Mansour menyebut otoritas air Lebanon juga telah kekurangan uang untuk memperbaiki pipa yang retak dan berkarat. Mereka juga tidak mampu menangani pasokan air secara memadai. Akibatnya, air dapat terkontaminasi dalam perjalanannya ke rumah-rumah warga. Serta kemungkinan sebagian air terbuang percuma karena pipa yang bocor.

“Beberapa keluarga telah merebus air sebelum diminum, atau dalam beberapa kasus hanya meminumnya langsung dari keran. Ini dapat menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui air, dan kami telah mendokumentasikan kasus salmonella dan diare.” jelas Mansour.

Sementara itu, Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response ACT pada Rabu (8/9/2021 menjelaskan, kenaikan harga pangan dan air minum di Lebanon berdampak pada pengungsi Palestina dan Suriah yang jumlahnya ratusan ribu orang di sana. Mayoritas dari mereka tidak memiliki pekerjaan, sehingga krisis ini akan menjadi pukulan besar untuk mereka.

"Sebelum krisis ini saja, para pengungsi Suriah dan Palestina sudah sangat sulit untuk bisa membeli makan yang cukup. Sekarang segala kebutuhan harganya melambung. Semoga Sahabat Dermawan bisa memberikan bantuan untuk para pengungsi, karena saat ini mereka hanya bisa bergantung kepada kebaikan para dermawan," ajak Firdaus.[]