Krisis Pangan, Pengungsi Yaman Cari Makanan di Tempat Sampah

Puluhan keluarga Yaman tinggal merana di Kamp Al Tahsin di Amran. Keterbatasan pangan membuat mereka mencari sisa makanan di tempat sampah.

pengungsi yaman
Pengungsi Yaman yang tinggal di Kamp Al Tahsin. (ACTNews)

ACTNews, AMRAN – Pengungsi di Kamp Al Tahsin, Amran, harus mencari sisa-sisa makanan di tempat sampah. Mereka tidak mampu membeli makanan yang layak. Harga pangan di Yaman melambung dan mustahil untuk dibeli. Satu keranjang makanan dan minuman bisa mencapai harga 9.133 Rial Yaman atau sekitar Rp525 ribu.

Firdaus Guritno dari tim GHR-ACT menjelaskan, ada 470 jiwa yang bermukim di Al Tahsin. Mayoritas para pengungsi tidak memiliki pekerjaan. Mereka tinggal di tenda kumuh dan sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.

Kebiasaan konsumsi makanan bekas ini pun berpengaruh langsung ke kesehatan para pengungsi. Mereka kerap mengalami berbagai penyakit yang disebabkan bakteri. “Anak-anak mengalami diare, busung lapar, dan kolera. Hal ini tidak bisa diabaikan,” kata Firdaus.

"Masalah pangan juga akan berdampak kesehatan penduduk Yaman. Krisis semakin diperparah dengan ketiadaan layanan kesehatan serta suhu musim dingin. Jumlah pangan yang tersedia jauh berkurang dibanding musim-musim sebelumnya. Diperkirakan, kasus kerawanan pangan pun akan meningkat di antara para pengungsi.

Firdaus menjelaskan, kondisi semakin parah karena anggaran untuk bantuan pangan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Yaman telah dipangkas sangat besar. Hal ini diperkirakan akan memberi dampak ke 13 juta pengungsi Yaman.

Setidaknya pada Januari 2022 nanti, 8 juta pengungsi akan mendapat pengurangan jatah pangan yang signifikan. Membuat tingkat kerawanan pangan diproyeksikan akan membumbung tinggi.[]