Krisis Semakin Mencekam Somalia

Agustus lalu, Somalia mencapai puncak krisis kemanusiaan. Kekeringan panjang menghancurkan sektor pertanian dan peternakan, membuat jutaan warga kehilangan sumber pangan. Diperkirakan, 800 ribu balita mengalami kekurangan gizi akut atas krisis ini.

krisis somalia
Ilustrasi. Ratusan ribu balita di Somalia alami kekurangan gizi akut. (ACTNews)

ACTNews, SOMALIAAgustus lalu, sejumlah organisasi kemanusiaan menyatakan Somalia telah mencapai puncak krisis kemanusiaan. Satu dari empat orang menghadapi tingkat penyakit akut yang tinggi. Kerawanan pangan yang terjadi juga menyebabkan lebih dari 800 ribu anak di bawah usia lima tahun kekurangan gizi akut.

Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyatakan, selain disebabkan karena konflik berkepanjangan, iklim yang ekstrem di Somalia juga bertanggung jawab terhadap kerawanan pangan ini.

Kekeringan berkepanjangan yang terjadi, membuat curah hujan akan turun drastis dan sumber daya air mengering. Membuat tidak hanya warganya kehausan, tetapi juga tidak bisa mengairi perkebunan mereka. Lahan subur menghilang sehingga para petani gagal panen. Belum lagi, serangan hama belalang gurun membuat banyak tanaman yang tersisa rusak.

Bukan hanya sektor pertanian atau perkebunan, sektor pertenakan juga turut terdampak. Banyak ternak yang mati karena kehausan dan kekurangan makanan. Imbasnya, warga Somalia kehilangan sumber pangan yang berasal dari panen petani dan daging dari peternakan.

Iklim ekstrem juga membuat Somalia menjadi negara yang rawan terjadi banjir besar jika hujan deras. Sering kali hujan berdampak vatal, lahan petani terendam banjir, bahkan ternak warga sering kalo hanyut dan mati.

Pandemi Covid-19 juga menyebabkan banyak warga Somalia kehilangan pekerjaan. Kepala keluarga kehilangan penghasilan untuk memberi makan anggota keluarga.

Menurut Mohammed Mukhier, Direktur Regional IFRC untuk Afrika, Somalia adalah salah satu tempat paling berisiko di bumi untuk ditinggali saat ini. "Negara ini adalah katalog bencana. Bencana terkait iklim, konflik, dan Covid-19 telah menyatu menjadi krisis kemanusiaan besar bagi jutaan orang.” ujarnya.[]