Kurban Beri Harapan Kenya Bertahan dari Krisis Pangan

Kurban punya histori dalam meredam krisis pangan di Kenya beberapa tahun belakangan. Distribusi daging kurban oleh Global Qurban ACT, memberikan harapan warga Kenya untuk bertahan dari krisis pangan, usai kemarau berkepanjangan membuat banyak petani gagal panen.

Global Qurban di Kenya
Distribusi daging kurban untuk warga prasejahtera di Kenya 2020 lalu. (ACTNews).

ACTNews, KENYA – Kenya pernah mengalami krisis pangan yang parah pada 2018 lalu. Sebab, saat itu para petani mengalami gagal panen imbas kemarau berkepanjangan. Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response-ACT mengisahkan, di Kitui misalnya, wilayah yang terletak 180 kilometer di timur Nairobi, ibu kota Kenya. Mayoritas penduduknya adalah pekerja di sektor pertanian maupun peternakan.

“Imbas gagal panen tersebut, bukan hanya petani yang merugi. Panen yang rusak juga berdampak pada sektor peternakan. Para peternak kesulitan memenuhi pangan ternak mereka karena tidak adanya rumput yang bisa diambil. Mereka rugi besar sebab ternak akhirnya mati. Harga pangan pun melonjak saat itu, banyak warga yang alami krisis pangan karena tak memiliki biaya untuk membeli makanan,” cerita Faradiba, Jumat (2/7/2021).

Pada perayaan kurban saat itu, Global Qurban-ACT hadir di wilayah Kitui. Membagikan daging kurban kualitas terbaik untuk ribuan warga di sana. Sehingga mereka mampu bertahan dari krisis pangan.

Ikhtiar tersebut pun terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya, dengan jumlah penerima manfaat yang ditargetkan terus bertambah. “Pada 2020 lalu misalnya. Sebanyak 22 ribu warga Kenya bisa merasakan daging kurban pemberian Sahabat Dermawan. Sementara pada tahun ini, semangat Global Qurban ACT untuk membagikan daging-daging kurban kepada warga prasejahtera di Kenya tetap tinggi. Apalagi krisis pangan masih mengancam mereka pada tahun ini,” tambah Faradiba..

Kelompok Pengarah Ketahanan Pangan Kenya (KFSSG) memperkirakan sekitar 1,4 juta warga Kenya mengalami kerawanan pangan yang parah pada 2021. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya kekeringan parah yang merusak sektor pertanian. Curah hujan yang rendah, membuat hasil panen para petani di Kenya menurun. Belum lagi ada lonjakan pertumbuhan hama belalang gurun pada Februari lalu, menyebabkan banyak tanaman rusak.

“Sama seperti di tahun 2018. Tanaman yang rusak, juga berdampak pada sektor pertenakan. Para peternak kesulitan memenuhi pangan ternak mereka karena tidak adanya rumput yang bisa diambil. Membuat ternak-ternak kurus dan sulit untuk dijual,” ujar Faradiba

Tidak hanya itu, pandemi Covid-19 yang juga merebak di Kenya juga menyebabkan kerawanan pangan semakin parah. Di daerah perkotaan, warga prasejahtera yang menjadi pekerja lepas maupun pedagang kecil, telah kehilangan pekerjaan mereka. Sedangkan di pedesaan, warga di sana terdampak dengan melambatnya pasokan pasar yang masuk dan naiknya harga-harga pangan.[]