Kurban dari Indonesia Jangkau 16.000 Pengungsi Sudan

Darfur Selatan tidak hanya dihuni oleh penduduk lokal, tetapi juga oleh ribuan pengungsi dari Sudan. Sejak 2006, Darfur Selatan yang letaknya berada di tengah wilayah konflik itu memang sudah menjadi salah satu kamp pengungsian terbesar.

ACTNews, DARFUR SELATAN - Jarak yang jauh dan akse yang sulit untuk menjangkau Darfur Selatan tidak mengurungkan niat Global Qurban untuk menyampaikan amanah dari masyarakat Indonesia untuk warga Sudan. Perjalanan udara ditempuh dengan menumpangi pesawat komersil selama 1,5 jam menuju Niyala. Kemudian berlanjut dengan perjalanan darat selama 4 jam hingga sampai ke Darfur Selatan. 

Darfur Selatan sendiri adalah negara bagian di Sudan, memiliki luas sebesar 127.300 kilometer persegi. Darfur Selatan tidak hanya dihuni oleh penduduk lokal, tetapi juga oleh ribuan pengungsi dari Sudan. Sejak 2006, Darfur Selatan yang letaknya berada di tengah wilayah konflik itu memang sudah menjadi salah satu kamp pengungsian terbesar. Utamanya di wilayah Gereida, Joghana, dan Juju. 

Ismail Bey, mitra Global Qurban di Sudan mengungkapkan, sebanyak 16.000 penduduk Darfur Selatan secara bergantian mendapat daging kurban, kantong per kantong. “Tingkat pengangguran di Darfur Selatan sangat tinggi, sehingga kondisi perekonomian pun sangat lemah. Mereka sangat bahagia ketika menerima daging kurban, banyak yang menitip salam untuk masyarakat Indonesia,” ungkap Ismail. 

Salam pertama datang dari Ahmad Muhammad Djibril (62), pengungsi Sudan yang menetap di wilayah Gereida. Ahmad merasa, lewat daging kurban, masyarakat Indonesia bisa mengikat ukhuwah islamiyah tanpa memandang suku, ras, bahasa, maupun warna kulit.  

“Masyarakat Indonesia akan selalu kami kenang dan kami tunggu kembali kedatangannya di Iduladha mendatang (2019),” kata Ahmad. 

Sedang menurut Ahmet Isa (29), upaya yang dilakukan masyarakat Indonesia dengan berkurban di Gereida merupakan sebuah langkah tepat. Sebab, usai konflik berkecamuk hingga awal 2010, bantuan kemanusiaan jarang ada yang menjangkau daerahnya. 

“Terima kasih kepada Indonesia yang telah memberikan kepeduliannya kepada kami, di sini, di pedesaan yang letaknya jauh dari kota. Daerah kami banyak sapi, tapi kami sendiri tidak mampu membeli untuk memakannya,” tutur Ahmet. 

Pada Iduladha mendatang, insyaallah, Global Qurban akan kembali menyapa pengungsi Sudan yang hingga sekarang masih menjadi korban konflik. Tak bisa dipungkiri, mengungsi ke wilayah yang lebih aman belum tentu membawa mereka menuju kehidupan yang lebih baik. []