Kurban Dermawan Sapa Kaum Urban Semarang

Tak hanya ke tepian negeri, daging kurban dermawan juga datang untuk kaum urban. Di Semarang misalnya, mereka yang hidup prasejahtera bisa menikmati daging kurban untuk berbagai olahan.

Anak-anak di Semarang saat mendapatkan daging kurban. (ACTNews)

ACTNews, SEMARANG Di balik megahnya Ibu Kota Jawa Tengah, ternyata masih ada wilayah terpinggirkan yang warganya tidak berkesempatan menikmati lezatnya daging kurban. Kemiskinan seakan melekat pada kehidupan mereka. Wilayah tersebut  ialah Kampung Sleko yang berada di Kota Lama, Semarang Utara, Kota Semarang.

Rumah-rumah petak di sepanjang jalan pinggiran Kali Semarang menjadi tempat tinggal warga. Di kampung tersebut juga terdapat bangunan kuno bersejarah peninggalan Belanda bernama Menara Syahbandar, atau dikenal dengan Menara Sleko yang sudah berdiri sejak 1825.

Pada perayaan Iduladha tahun ini, tidak seperti perayaan hari raya di tahun-tahun sebelumnya, kata Massrinah, salah satu warga Sleko yang sudah bermukim belasan tahun di sana. Di tahun ini, ia hanya melihat dua ekor sapi yang melintas di depan rumahnya. Sayang, hewan kurban itu bukan untuk distribusi di tempat ia bermukim.

“Saya kira ada yang kurban, ternyata untuk kampung sebelah,” tuturnya.

Mengetahui kondisi, membawa Global Qurban-ACT hadir untuk warga Sleko. Daging kurban terbaik dari dermawan didistribusikan untuk kaum urban Semarang. Sambutan bahagia pun datang.

Septi Endrasmoro, Kapala Cabang Global Qurban-ACT Jawa Tengah, mengatakan, momen Iduladha tahun ini, sebanyak 192 ekor sapi disembelih di berbagai kota/kabupaten di Jateng. Sasaran distribusinya ialah ke kaum urban prasejahtera, wilayah pelosok hingga santri.

Untuk wilayah Semarang sendiri, pendistribusian meluas hingga ke pinggiran kota, seperti perkampungan pemulung Jatibarang di Mijen, Kecamatan Ngaliyan, Kecamatan Tugu, Kecamatan Gunung Pati. Kalau di pusat kota seperti Kampung Sleko, Kompleks Cagar Budaya Sobokarti, hingga Kampung Nelayan Tambaklorok, dan sekitarnya," imbuh Septi.[]