Kurban ke Yordania, Tengok Nelangsa Ribuan Keluarga Pengungsi Suriah

Kurban ke Yordania, Tengok Nelangsa Ribuan Keluarga Pengungsi Suriah

ACTNews, AMMAN - Mengingat Yordania, bisa jadi yang paling terbayang di benak kebanyakan masyarakat Indonesia adalah sebuah negara dengan kemakmuran yang sedang meningkat. Yordania, sebuah negara yang berada di bawah Kerajaan Monarki tetapi punya tingkat perkembangan manusia yang bergerak ke atas. Dengan kata lain, negara ini makin makmur, lebih dari cukup untuk sekadar mencukupi makan dan papan. Yordania pun sejajar dengan negara Timur Tengah yang tingkat ekonomi baik. Bagi yang awam, Yordania sekilas setara dengan Qatar, Uni Emirat Arab, atau Arab Saudi.

Faktanya, memang begitulah kondisi Yordania hari ini. Mata uang Dinar Yordania berada dalam posisi yang tangguh di antara negara-negara Timur Tengah lain. Sekira 7,5 juta penduduk Yordania sedang merasakan perputaran ekonomi yang tumbuh pesat, dengan sebuah iklim ekonomi pasar bebas yang baik.

Akan tetapi, fakta-fakta ekonomi dan kemakmuran Yordania yang tampak mapan nan tangguh itu tak pernah berarti apa-apa bagi ratusan ribu pengungsi, ya pengungsi. Jumlahnya jutaan jiwa. Yordania membuka pintu lebar-lebar untuk arus pengungsi, menampung untuk sementara bahkan selamanya.   

Silakan lihat peta Timur Tengah, posisi Yordania berada tepat di tengah lingkaran kekalutan negeri-negeri yang berkonflik.

Sebelah barat Yordania ada batas wilayah langsung yang mengarah ke Palestina dan Israel. Sebelah utara Yordania bersisian langsung dengan negeri Suriah yang berdarah-darah. Sementara itu, sebelah timur Yordania mengarah langsung ke luasnya wilayah Irak.

Bahkan sebagai perbandingan jarak dari Palestina ke Yordania, bagi pendatang siapa pun yang hendak masuk ke dalam lingkungan Kompleks Suci Al-Aqsa, pilihan paling masuk akal adalah transit via Amman, Yordania. Kemudian, mereka bisa melaju jalur darat menuju Yerusalem. Jaraknya sekira 217 kilometer atau tak lebih dari 5 jam perjalanan.

Yordania, penampungan jutaan pengungsi Palestina dan Suriah

Bukan hanya dalam hitungan tahun, sudah lebih dari tiga dekade terakhir Yordania menjadi salah satu lokasi penampungan pengungsi terbesar di dunia. Tiga dekade lampau, laju pengungsi asal Palestina bergerak menuju Yordania. Di tanah Yordania, ratusan ribu pengungsi asal Palestina berharap menemukan nasib hidup yang lebih baik. Pilihan ini pilihan terbaik, ketimbang harus bertahan di tengah gempuran Zionis Israel yang tak henti menggencet, menjajah, mengambil dan mengakui tanah Bangsa Palestina sebagai tanah mereka.

Kini, lebih dari 30 tahun berjalan, puluhan sampai ratusan ribu keluarga Palestina masih bertahan di tengah hiruk pikuk ekonomi Yordania. Mereka beradu kesempatan pekerjaan dengan 7 juta populasi asli bangsa Yordania.

Belum usai masalah Palestina, pecahlah konflik paling berdarah-darah dalam sejarah konflik modern: perang sipil Suriah.

Dari sebelah utara Yordania, garis batas dengan Suriah memanjang ribuan kilometer. Tak ayal, Yordania kembali menjadi destinasi pengungsi yang lari dari gempuran rudal dan roket di Suriah.

Juli 2012 lalu, demi menampung membludaknya arus pengungsi asal Suriah, Yordania mengambil sikap untuk membuka Zaatari Refugee Camp. Kawasan tersebut merupakan sebuah kamp penampungan raksasa yang berada di sebelah utara Yordania. Lokasinya tak jauh dari gerbang perbatasan Suriah dan Yordania. Kamp Zataari menampung permanen puluhan ribu pengungsi asal Suriah.

Tenda-tenda berjejer di tengah tanah lapang yang tandus dan gersang. Panas dan pengap sudah tentu menjadi hari-hari pengungsi di Kamp Zataari. Apalagi makin hari populasi pengungsi Suriah yang ditampung makin membengkak. Estimasi terakhir tahun 2015 lalu, sekitar 79.900 jiwa pengungsi Suriah bergelut dengan panas dan kemiskinan di Kamp Zataari. Mungkin hari ini populasinya sudah hampir menyentuh 90.000 jiwa pengungsi.

Temui pengungsi Suriah di Yordania, bawa amanah kurban dari Indonesia  

Begitu realitas Yordania hari ini. Walau rata-rata ekonomi negeri itu stabil bahkan meningkat, di sudut lain Yordania, ada ratusan ribu, bahkan hampir sejuta populasi pengungsi yang tak punya masa depan.

Pengungsi dan warga asli Yordania hidup berbarengan. Mereka membagi kesempatan pekerjaan dan mencoba segala peruntungan demi bisa menyambung hidup dengan status pengungsi korban perang. Bahkan di Amman, ibu kota Yordania, pun berjubel pengungsi asal Suriah, juga Palestina.

Dari Jakarta ke Yordania, Global Qurban menjalin korespondensi dengan mitra lokal yang bermukim di Amman. Mengulang kembali kisah kurban tahun kemarin, insya Allah Global Qurban tahun ini akan kembali menghampiri rumah-rumah atau kamp pengungsi di Kota Amman. Tak lupa, mereka yang tinggal di sepanjang perbatasan utara Yordania dan Suriah.

Kurban setahun lalu di Kota Amman, Global Qurban bertemu dengan Um Abdo, seorang ibu paruh baya yang bermukim di Amman. Um Abdo (Ibu dari Abdo) dulu tinggal di Homs, Suriah. Tapi konflik Suriah meletus dan menghilangkan seluruh harta Um Abdo. Dari Homs, ia lari ke Beirut, Lebanon, bersama dengan 4 orang anaknya. Tak lama, Lebanon mengusir secara halus Um Abdo dan ribuan pengungsi lainnya. Sampai akhirnya Um Abdo dihempas di Kamp Zataari, Yordania.

“Saudara saya lalu datang membawa saya keluar dari Kamp Zataari dan hidup di Amman. Rumah kami hanya rumah sewaan. Saya menjual harta terakhir cincin pernikahan saya untuk menyewa rumah di Amman. Hidup makin sulit karena pekerjaan tak pernah mudah untuk kami yang berstatus pengungsi,” katanya haru.

Lain lagi cerita dari Sorour, seorang ibu dengan lima anak yang ditemui Tim Global Qurban di Amman.  Ibu berusia 32 tahun ini juga berasal dari Homs, Suriah. Tahun 2012, Sorour nekat dengan suami dan lima orang anaknya membayar penyelundup untuk membawa masuk ke Yordania, menjadi pengungsi korban perang.

“Saya punya dua anak laki-laki dan dua anak perempuan, saya juga sedang hamil. Rumah di Homs tetap lebih nyaman dibanding menjadi pengungsi di Amman. Di sini, suami saya tidak pernah mendapat pekerjaan karena sebagai pengungsi harus punya izin kerja yang sulit sekali didapat. Tapi mau bagaimana lagi? Untuk kembali ke Homs hampir mustahil, perang belum usai,” kata Sorour.

Dua perempuan tangguh, Um Abdo dan Sorour hanyalah contoh kecil dari nelangsa yang kini sedang jenuh di Amman Yordania. Setahun kemarin, Global Qurban datang jauh dari Indonesia sampai ke negeri Yordania. Insya Allah, tahun 2017 ini cerita kurban yang sama bakal terulang lagi di Yordania. Global Qurban akan mengetuk pintu rumah-rumah pengungsi asal Suriah dan Palestina, membawa gurih daging kurban dari Indonesia. []

Tag

Belum ada tag sama sekali