Kurban untuk Yaman di Tengah Krisis Kemanusiaan

Kurban untuk Yaman di Tengah Krisis Kemanusiaan

ACTNews, SANA'A - Sudah setahun sejak Global Qurban singgah di Yaman. Setahun berselang, tetap tak ada yang membaik. Tahun kemarin sehari sebelum Iduladha di Yaman, tak ada yang bisa menjawab tentang pertanyaan, ingin makan apa esok? Daging kambing kurban atau daging kerbau atau malah daging sapi yang gurih? Tidak perlu muluk-muluk, kirimkan kurban untuk Yaman adalah sebuah keharusan.

Konflik sudah terjadi sejak Maret 2015 silam. Detik berlalu, jam terlewat, hari berganti, semua masih penuh dengan ketakutan. Yang ada hanya remuk redam. Yang berulang hanya kekacauan di seluruh sudutnya. Sekian abad tercatat dalam peradaban dunia, negeri yang kini remuk redam itu dikenal dengan nama: Yaman.

Akhir Agustus 2017 lalu, kondisinya pun tak berubah. Mendekati momen Idul Kurban 2017, tak ada yang membaik. Tim Global Qurban sampai ke Yaman, masuk ke dalam Kota Sana’a. Kota yang menjadi kumparan konflik.

Global Qurban masuk ke kota Sana’a dan Ta’iz

Bukan urusan yang mudah untuk menembus ke Yaman, itu kenyataan yang didapat. Awal September tahun 2017 lalu, beberapa hari jelang hari Iduladha, keputusan diambil di menit-menit terakhir. Kemudahan akhirnya didapat, Allah SWT mengizinkan sekali lagi Global Qurban kembali ke Yaman, membawa amanah kurban dari masyarakat Indonesia.

Beberapa mitra Global Qurban di Yaman menyambut kontak dari Jakarta, amanah untuk tunaikan kurban masyarakat Indonesia di Yaman siap dilaksanakan. Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response – Global Qurban menuturkan, untuk Yaman Global Qurban membawa amanah ratusan hewan qurban.

“Di menit-menit terakhir jelang takbir Iduladha, mitra di Sana’a, Yaman, mengatakan sanggup menyembelih sapi dan kambing di beberapa lokasi dengan kondisi pengungsi paling membutuhkan. Mulai dari Sana’a sampai Tai’z,” cerita Faradiba.

Hingga hari tasyrik terakhir, Global Qurban di Yaman sukses menuntaskan amanah kurban di belasan lokasi yang berbeda. Lokasi distribusi daging kurban difokuskan di distrik-distrik penampungan pengungsi internal terbanyak.

Di Distrik Shoub Kota Sana’a misalnya. Sejak pertama kali konflik meledak di Yaman, Sana’a jadi sentral dari segala kekacauan. Oposisi dan sekutu pemerintahan Yaman bertempur hebat di Sana’a. Saat takbir Iduladha berkumandang, Sana’a hanya menyisakan cerita tentang kota yang porak poranda, infrastruktur hancur, dan bencana kolera yang merebak.

“Tahun lalu suami saya meninggal karena perang. Saya tulang punggung keluarga dengan lima orang anak. Kolera, dan kanker sekarang menyerang anak saya, sementara rumah sakit di Sana’a sudah tidak layak lagi. Tapi Alhamdulillah, tidak menyangka Iduladha kali ini datang hadiah dari Indonesia. Daging kurban pertama untuk anak-anak saya sejak konflik bermula tiga tahun lalu,” kata Fawzia Mohammed Shaher, Ibu berusia 40 tahun asal Shoub, Sana’a.

Ada lagi cerita dari Distrik Ibb di Kota Taiz. Di atas peta, Taiz berada tepat di tengah perjalanan antara Sana’a dan Aden, dua kota terpenting di tengah konflik Yaman. Lokasi Taiz yang berada dalam jangkauan pengungsi asal Sana’a dan Aden membuat distrik ini membeludak oleh pengungsi internal (internally displaced person). Mitra Global Qurban di Taiz menuturkan, pertengahan 2017 lalu populasi Taiz mencapai nyaris tiga juta jiwa.

“Taiz mendapatkan limpahan puluhan ribu pengungsi yang lari dari Sana’a dan Aden. Akibatnya kondisi Taiz juga tak kalah kacau. Walau operasi militer tak terjadi di Taiz, tapi kota ini menjadi wilayah dengan pengungsi terbanyak,” tulis Mustafa, mitra Global Qurban di Taiz dalam laporannya.

Di dalam Kota Taiz, September 2017 lalu Global Qurban menyapa Distrik Ibb. Untuk Ibb, di hari Idul Adha lalu, Global Qurban siapkan ratusan domba-domba yang dibeli dari warga lokal. Dari daging-daging domba yang disembelih, lebih dari 1.500 warga Ibb bisa merasakan sedapnya daging kurban, mungkin yang pertama kalinya sejak konflik melanda.

“Saya adalah seorang ayah dari delapan orang anak. Saya lari dari Sana’a ketika perang meluluhlantakkan rumah kami di Sana’a. Dulu di Sana’a saya bekerja di usaha konstruksi, sampai akhirnya perang membuat mata buta karena ledakan. Daging kurban dari Indonesia ini menjadi hadiah istimewa untuk anak-anak saya di rumah. Allah akan membalas kebaikan untuk Indonesia. Doakan kami di Yaman agar perang segera berakhir,” cerita Muhammed Ali Yahya Shamassi, bapak berumur 57 tahun asal Distrik Ibb, Taiz. []

Tag

Belum ada tag sama sekali