La Nina Dikhawatirkan Memicu Kelaparan di Afrika

Mulai pertengahan Desember, sejumlah negara di Afrika Timur seperti Sudan Selatan, Somalia, Etiopia, Kenya, Tanzania, Rwanda, dan Uganda kemungkinan besar akan mengalami curah hujan di bawah rata-rata, dampak dari La Nina yang hebat. Peristiwa ini dikhawatirkan membuat jutaan orang di Afrika kelaparan menjelang 2021.

Ilustrasi. Anak-anak di Uganda. Uganda merupakan slaah satu negara di Afrika Timur yang terancam kelaparan akrena perubahan iklim tak menentu. (ACTNews/Erwin Santoso)

ACTNews, JAKARTA – Organisasi Meteorologi Dunia melaporkan La Nina sudah terbentuk di Samudra Pasifik Timur yang mungkin menyebabkan kekeringan bertambah parah di Afrika Timur. Kondisi ini dikhawatirkan merusak lahan pertanian.

Afrika Timur telah diperingatkan untuk mengantisipasi kondisi cuaca yang lebih kering dari biasanya hingga Januari 2021. La Nina di Pasifik Timur memicu perubahan iklim dalam level sedang hingga ekstrem.

Organisasi Pembangunan Antarpemerintah di Afrika melaporkan, Oktober hingga Desember adalah musim tanam utama bagi Kenya, Somalia selatan, Ethiopia, Rwanda, Burundi, Uganda, dan sebagian besar Tanzania. Kemarau dikhawatirkan memengaruhi tanaman dan padang rumput di Kenya Timur dan Barat, Tanzania Utara, Ethiopia Selatan, Somalia Utara dan Barat.


Distribusi bantuan pangan dari ACT untuk penduduk Mogadishu, Somalia, pada September 2020. (ACTNews)

Sejak Januari, hama belalang telah menyebabkan kerusakan senilai $8,5 miliar di banyak lahan pertanian di Afrika Timur. Sebesar 100.000 hektare lahan pertanian di Somalia, 200.000 hektare  di Ethiopia, dan sekitar 70.000 hektare di Kenya, tidak dapat panen. Keadaan itu menyebabkan kelaparan ternak dan menyebabkan kekurangan makanan.  

Pertanian yang terganggu tentu berdampak pada ketahanan pangan Afrika Timur. Gizi buruk di tengah pandemi Covid-19 menjadi ancaman yang serius. Noor Maalim Abdi, seorang petani Kenya, bercerita kepada salah satu lembaga kemanusiaan internasional. “Dulu kami makan tiga kali sehari, tetapi karena wabah belalang dan Covid-19,  kami tidak lagi bisa makan tiga kali. Untuk saat ini, kami menjual ternak kami untuk menopang kebutuhan keluarga," kata Abdi.

Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response - Aksi Cepat Tanggap melaporkan, sejauh ini Aksi Cepat Tanggap, Global Wakaf, dan Global Qurban terus mengantarkan bantuan terbaik untuk Afrika. Mulai dari air bersih melalui sumur wakaf, daging kurban setiap Iduladha, bantuan Alquran, bantuan ketika bencana alam, paket pangan iftar Ramadan hingga hadiah Idulfitri. Bantuan tersebut bisa dimasifkan lagi melalui dukungan para dermawan.

“Sahabat bisa mendukung program kemanusiaan untuk Afrika melalui Indonesia Dermawan. Semoga ikhtiar kita bersama bisa meringankan tantangan yang harus dihadapi saudara di Afrika,” kata Faradiba, Senin (14/10).[]