Lahan Pertanian di Sragen Tak Tergarap Berbulan-bulan

Air tak lagi mengaliri lahan persawahan warga. Sungai mengering, juga sumur-sumur tak lagi mengeluarkan air.

ACTNews, SRAGEN Tanah retak tanpa tanaman menghiasi berbagai wilayah di Jawa, tak terkecuali di Dukuh Betek, Desa Banyuurip, Kecamatan Jenar, Sragen. Di desa yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur itu, banyak lahan yang kini tak tergarap semenjak akhir Ramadan.Penyebabnya adalah pasokan air yang terhenti akibat kekeringan selama berbulan-bulan.

Hawa gersang. Beberapa lahan yang masih tergarap ialah ladang tebu dan jagung. Walau begitu, tanaman yang dikelola warga itu kurang maksimal akibat tak adanya pasokan air sama sekali. Sungai menering, juga sumur-sumur.

Warga Desa Banyuurip Wiyoto, Kamis (22/8). Menyebut, kekeringan telah terjadi sejak April lalu. Sejak saat itu, intensitas hujan mulai menurun, bahkan tak turun lagi sama sekali. “Sebagian besar pekerjaan warga sebagai petani, di tahun ini mereka baru sekali panen karena kurangnya pasokan air. Sedangkan di musim kering seperti sekarang ya warga alih profesi, ada yang jadi kuli atau merantau ke kota. Sangat berpengaruh pada kondisi ekonomi,” jelasnya.


Kamis itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) diajak oleh Wiyoto ke salah satu lahan pertanian milik warga. Sebelumnya, lahan itu ditanami padi. Akan tetapi tak adanya air membuat lahan dibiarkan begitu saja. Tanah sawah merekah. Kedalamannya, kata Wiyoto, bisa mencapai 50 sentimeter. Tak turunnya hujan sejak April, sumur sawah dan sungai yang kering membuat lahan tak dapat digarap.

Ketika awal musim kemarau, petani masih banyak yang bertahan. Mereka mengandalkan air yang masih tersimpan di bawah tanah sungai atau sering disebut belik (mata air kecil). Galian-galing di sungai karep ditemukan, walau air yang keluar tak banyak, namun ketika di awal kemarau sumber air itu sangat berguna untuk menyuplai air bagi tanaman petanian. “Tapi sekarang sudah enggak ada lagi airnya,” jelas Wiyoto yang menunjukan belik ke ACT. Belik-belik itu kini banyak yang telah tertutup dedaunan kering.

Kini, lahan persawahan kosong. Rumput liar pun enggan tumbuh karena tak ada sama sekali air yang memasok lahan yang ketika musim penghujan hijau. Petani pun hanya dapat menunggu datangnya hujan. Juari, petani di Desa Banyuurip, menyebut, ketika musim kemarau seperti ini petani beralih profesi. Juari sendiri saat ini bekerja sebagai kuli bangunan di desanya.