Lahan Telah Terjual, Tapi Slamet Tetap Menabur Benih

Tiga kali gagal panen tak membuat Slamet (66) menyerah. Demi kebutughan sehari-hari, ia terus menggarap lahannya, meskipun lahan tersebut mesti menyewa dari orang lain.

Slamet ketika ditemui Tim Global Wakaf - ACT di tengah lahannya. (ACTNews)

ACTNews, SIDOARJO – Sudah tiga kali Slamet mengalami gagal panen, sampai modalnya pun kini telah habis. Anak-anaknya enggan berprofesi sebagai petani, dan lebih memilih menjadi buruh pabrik di sebuah industri kerupuk yang berada di sekitar desanya sebab kepastian pendapatan. “Tidak dengan bertani yang pendapatannya tak tentu,” ujar Slamet ditemui Rabu (3/1/2021) lalu.

Kegagalan yang dialami Slamet tidak terlepas dari keterbatasan pengetahuannya dalam pengembangan tani. Ia bercerita lahan kini sudah tercemar dan inovasi pertanian dibutuhkan. Berbeda dengan dahulu, hanya dengan pupuk kandang persawahannya tumbuh subur. Belum lagi bila bicara hama, berbagai pupuk kimia sekalipun tak mempan membasminya, terutama hama tikus.

Walau bagaimanapun, kegagalan demi kegagalan tidak menyurutkan keinginannya untuk terus meladang. Hal ini juga tidak terlepas dari kewajiban untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Pukul 6 pagi ia menjadi buruh tani mengarap sebidang lahan sawah berukuran 1.600 m2 dengan upah Rp70 ribu. Lalu pada siang harinya ia mengarap lahan yang ia sewa sebesar Rp700 ribu per tahun.


Dorongan untuk menggarap lebih dari satu lahannya juga disebabkan harga tanah semakin murah di desanya, sebab menurut Slamet tidak banyak orang yang ingin mengolah lahan persawahan saat ini. “Kegagalan panen yang terus mereka derita, petani di dusun pun hanya tinggal 7 orang,” ujar warga Dusun Kepodangan, Desa Kepadangan,Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo ini.

Slamet salah satu yang sepuh di antara mereka. Tetapi bertani sejak tahun 1972, dan memasuki usia 66 tahun tak menyurutkan semangatnya untuk menjejaki tanah sawah. Dahulu Slamet memang memiliki lahan persawahan, yang kemudian harus  ia jual guna memenuhi kebutuhannya hidupnya. Sebagian lahan tersebut juga ia bagikan untuk anak-anaknya, tetapi tak ada niatan untuk diolah dan akhirnya pun juga ikut dijual.

Untuk membantu ikhtiar Slamet, Global Wakaf – ACT menyalurkan bantuan Wakaf Modal Usaha Mikro kepadanya. Bantuan telah diberikan pada Desember 2020 lalu. Bersama Slamet, ada 8 orang di Desa Kepadangan. “Kita berharap bantuan ini dapat mendorong produksi lahan mereka. Kami juga ingin meluaskan kebermanfaatan ini ke petani-petani lainnya, dan untuk itu kami juga mengharapkan kepedulian dari para dermawan sekalian,” kata Muhammad Fadli dari Tim Global Wakaf – ACT. []