Laji Berharap Petani Bisa Hidup Lebih Baik

Bertani menjadi jalan Laji (70) menafkahi keluarga. Walau di usia senja, warga Desa Selotapak, Kecamatan Trawas ini masih pergi ke ladang. Ia berharap ada masa depan yang menjanjikan bagi petani.

Laji (70) menunjukkan ubi jenis cilembu dan brul yang ia tanam di ladangnya di Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.
Laji (70) menunjukkan ubi jenis cilembu dan brul yang ia tanam di ladangnya di Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, KABUPATEN MOJOKERTO – "Tani kalau dibandingkan kerja pegawai ndak bisa beli rumah," celetuk Laji (70), petani asal Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Laki-laki baya itu banyak bercerita kepada ACTNews ketika yang berkunjung ke ladangnya awal Februari lalu.

Laki-laki baya itu mulai berkisah, harga ubi jalar yang anjlok awal tahun ini mungkin bukan tantangan terberat para petani. Namun, dari tahun ke tahun tidak ada perbaikan nasib bagi mereka.

Menurut penuturan Laji, sebagai petani, ia pernah mengalami krisis panen yang lebih parah, yakni ketika ladangnya diserang hama tikus. Habis modal, panen pun gagal.

Anjloknya harga ubi awal tahun ini dihadapi petani dengan sedikit legawa. Pasalnya, sejak tahun lalu, pandemi Covid-19 yang melanda dunia membuat salah satu pabrik pengepul ubi tutup.

Satu hal yang membuat para petani khawatir, ketika panen ubi mereka gagal, adalah tidak adanya modal untuk musim tanam berikutnya. "Setelah panen ubi, biasanya tanam padi," kata Laji.

Seolah menjadi siklus, ketika merugi dan modal tidak kembali, para petani pun meminjam uang ke kerabat mereka untuk biaya hidup. Laji pun demikian. Baginya, 30 tahun bertani, penghasilannya sebatas menyambung hidup dari hari ke hari.

Tidak ada generasi penerus

Ketidakpastian dan risiko merugi membuat generasi muda jarang berkeinginan jadi petani. Di keluarga Laji misalnya, tidak ada anak atau keponakan pun yang akan melanjutkan perjuangannya menjadi produsen pangan.

Dua anak Laji pun sudah memiliki rumah tangga sendiri sehingga ia menjadi generasi pamungkas yang mengurus ladang warisan turun temurun itu. "Tanah ini dari orang tua saya, dibagi tiga bersama kakak dan adik saya. Namun, sehabis ini belum tau siapa yang akan meneruskan," ungkapnya.

Bahkan, sebagai perumpamaan, selama tiga dekade, ia mencari nafkah tidak hanya sebagai petani. Suatu masa, ia pernah menjadi staf pemerintahan desa. Upah yang ia kumpulkan lambat laun bisa digunakan membangun rumah. "Beginilah petani, sampai sekarang kehidupannya tidak menentu," katanya terkekeh.[]