Langkah Demi Langkah Mewujudkan Korporasi Masyarakat

Menurut Dr. Ahmad Jalaludin LC. MA, masalah kemiskinan hadir karena kekayaan yang tak terdistribusi secara merata di masyarakat. Namun Islam punya 4 instrumen yang dapat membangun perusahaan milik masyarakat yang tak dimiliki individu.

Lumbung Ternak Wakaf di Tasikmalaya, salah satu aset umat yang memuat ribuan hewan. (ACTNews/Akbar)

ACTNews, MALANG – Kemiskinan bukan masalah utama, demikian menurut Dr. Ahmad Jalaludin LC. MA. Pendakwah sekaligus dosen S2 ekonomi syariah di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut mengatakan pangkal masalah justru adalah kekayaan yang tak terdistribusikan dengan baik.

“Kalau bahasanya Syekh Sya'rawi, bila ada yang miskin di suatu kawasan, ketahuilah ada orang-orang kaya yang bermasalah di dalam mengelola kekayaannya. Jadi persoalannya pada orang kayanya. Karenanya di dalam Islam itu sudah sedemikian mapan instrumen yang digerakkan oleh ekonomi Islam untuk membangun kekayaan itu. Bila itu baik (berjalannya), secara tidak langsung kemiskinan itu akan selesai sebetulnya,” kata Ustaz Jalaludin.

Instrumen distribusi kekayaan yang ia maksud ada 4, yang pertama yakni at-tabadul atau pertukaran. Sesederhana jual-beli atau menawarkan jasa. Tetapi tidak semua orang mampu membentuk kekayaan yang sama pada instrumen ini. Oleh karenanya ia bisa mendapatkan manfaat dari al-hajah yang bisa diartikan yang membutuhkan. Dalam jangka waktu pendek, kebutuhannya wajib dipenuhi oleh orang-orang kaya.

Instrumen selanjutnya berbicara tentang bagaimana menjaga kekayaan tidak hanya untuk individu tetapi juga umat, untuk kebutuhan jangka panjang. Tahap ini dapat diartikan juga sebagai wakaf. ”Karenanya seorang muslim itu orientasi pertama saat membangun kekayaan adalah saya bekerja, saya berbisnis, saya berdagang untuk apa? Dan itu menentu kualitas keimanan yang bersangkutan,” kata Ustaz Jalaludin sembari mengutip surat Al-Mu’minun ayat 4.


Ustaz Jalaludin (tengah) sedang menjelaskan bagaimana korporasi umat dapat terwujud. (ACTNews/Reza Mardhani)

Jika semua itu terlaksana dengan baik, maka sampailah kepada instrumen yang terkahir, yakni al-quwwah atau kekuatan di mana umat Islam memiliki korporasi mereka sendiri. “Tetapi korporasi muslim harus berbeda dengan korporasi kapitalis. Kalau kapitalis, korporasinya elitis, yang terjadi itu tarkitsu atsarwa (penguasaan kekayaan) dari hulu sampai hilir dikuasai oleh individu. Tetapi kalau dalam Islam karena konsep orang bekerja adalah bagaimana memelihara kekayaan umat, maka kekuatan yang dibangun adalah kekuatan korporasi yang bukan elitis, tetapi populis,” demikian Ustaz Jalaludin menjabarkan konsep distribusi kekayaan dalam Islam pada helatan Waqf Business Forum pada Ahad (22/11) lalu.

Tetapi konsep ini bukanlah teori belaka karena sudah terbukti implementasinya baik pada masa lalu, maupun kontemporer. Ustaz Jalaludin menyebut beberapa contoh yang berhasil menerapkan distribusi kekayaan ini melalui wakaf seperti Utsman bin Affan, Rumah Sakit Al Mashuri yang didirkan di Kairo pada tahun 682 H dan beroperasi dengan dana wakaf masyarakat, hingga Wakaf Sholah Athiyah di Kota Tafahna Al Asyraf di Mesir.

“Anak saya yang kedua itu pernah merasakan wakaf dari rumah sakit wakaf ini (di Tafahna Al Asyraf). Dari kehamilan sampai kelahiran itu gratis. Ini sinergi antara wakaf dan zakat untuk pembiayaannya. Kami dapat surat pengantar dari rumah sakit itu untuk scan. Kami kira scan-nya di rumah sakit yang lain, tetapi ternyata di basement sebuah masjid. Alat-alatnya sangat canggih dan di depannya ada tulisan, ’Kepada para pengunjung kami beritahukan alat-alat ini dibiayai dari zakat, mohon kepada yang tidak berhak menerimanya tidak menggunakan fasilitas ini’,” cerita Ustaz Jalaludin.


Menurutnya, rumah sakit tersebut merupakan salah satu contoh bagaimana wakaf tidak hanya menjadi penopang fasilitas ibadah seperti masjid, tetapi juga hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat secara umum. Ia berharap hal ini bisa dikembangkan oleh sinergi antara lembaga-lembaga wakaf di Indonesia.

“Perlu mengembangkan dari perlombaan kebaikan mencari wakaf, kepada pola bersinergi, bekerja sama di dalam mengembangkan wakaf. Dari fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) kepada at ta’awun ‘ala al-birri wa taqwa (saling membantu di atas kebaikan dan ketakwaan). Ada yang besar, ada yang kecil, ada yang punya potensi skill, ada yang punya potensi finansial, ada yang punya potensi jaringan. Inilah yang kemudian bersinergi dan bekerja sama,” ungkap Ustaz Jalaludin. []