Lapak Terkena Gusur, Kini Umi Yeti Menganggur

Lima tahun berjualan cilok ayam di pinggiran Kota Batam, baru kali ini Umi Yeti mengalami penggusuran. Kejadian tersebut membuatnya kini tak bisa bekerja lagi.

Umi Yeti memiliki tanggungan empat orang anak. Dua di antaranya bersekolah di pesantren. (ACTNews)

ACTNews, BATAM – Di pinggir Kota Batam, Kepulauan Riau, Umi Yeti, perantau asal Pulau Jawa ini mendapatkan rezeki dari berjualan cilok di wilayah Kelurahan Sukajadi. Sejak lima tahun lalu, ia memarkir gerobak di pinggir jalan untuk menjajakan dagangan.

Tetapi sudah sepekan belakangan, Umi tak bisa berjualan. “Selama pandemi ini saya tetap berjualan, tapi baru saja kena gusur, tapi tidak tahu alasannya kenapa. Jadi sekarang selama satu pekan saya menganggur,” ujar Umi ditemui pada Jumat (25/6/2021) kemarin.

Padahal dari dagangan tersebutlah ia bisa mencukupi kebutuhan keluarga, di samping penghasilan suaminya yang bekerja sebagai buruh bangunan. “Saat ini mereka menghidupi empat orang anak. Dua orang menempuh pendidikan di sebuah pesantren di Pulau Jawa, dan dua orang lagi tinggal bersama kami,” kata Umi.


Selain itu, Umi juga mengasuh dua orang anak yatim. Karenanya kebutuhan Umi saat ini cukup mendesak, dan ia berharap usahanya bisa kembali berjalan seperti sebelumnya.

Global Wakaf-ACT membantu Umi Yeti untuk menjalankan usaha kembali melalui program Wakaf UMKM. Selain bantuan modal, Tim Wakaf UMKM juga berusaha untuk menyelesaikan masalah yang kini sedang dihadapi Umi.

“Dari pendamping program berjanji untuk membantu beliau mengenai masalah penggusuran tersebut. Mudah-mudahan dengan bantuan ini, Ibu Umi Yeti bisa segera menemukan solusi, dan ke depannya usahanya dapat terus berkembang,” harap Khairul Hafiz dari Tim Global Wakaf-ACT Kepulauan Riau. []