Lapar dan Perang, Nelangsa di Yaman Makin Memburuk

Lapar dan Perang, Nelangsa di Yaman Makin Memburuk

Lapar dan Perang, Nelangsa di Yaman Makin Memburuk' photo

ACTNews, ADEN - Halaman baru di tahun 2017 belum habis satu semester, tapi dilema kemanusiaan mendadak meledak dalam rentetan yang berurutan. Masih di bulan Maret 2017, krisis kemanusiaan bertengger di halaman muka media-media internasional. Ironisnya, krisis kemanusiaan ini tumbuh berbarengan dengan pesatnya perkembangan kota-kota besar nan elit. Ketika dunia abad 21 berkembang dengan teknologi dan ekonomi yang makin menguat, di beberapa belahan dunia lainnya justru angka kelaparan bertambah luarbiasa. Somalia, Nigeria, Kenya, Sudan Selatan, dan yang paling buruk: Yaman.

Karena perang, ambruknya semua struktur ekonomi, dan nyaris tak berguna lagi mata uang di negeri itu membuat hari-hari di Yaman makin suram. Bagaimana bisa membeli sebungkus tepung, jika tak ada barang yang bisa dibeli? Bagaimana bisa membeli susu untuk si bayi Jika di seberang jalan ada desing senjata berat bersahutan? Semua faktor itu berimplikasi serius pada angka kelaparan dan malnutrisi di seluruh sudut Yaman.

Hari ini, setiap jam yang berlalu berarti menambah nelangsa Yaman setingkat lebih buruk, dan terus lebih buruk lagi. Dari Indonesia yang baik-baik saja, pertanyaan kemudian mengerucut, bagaimana sesungguhnya kabar Yaman hari ini?

Sejak Maret tahun 2015, perang di Yaman berlanjut sepanjang hari. Terlepas dari siapa dan apa pemicu konflik, kenyataannya krisis kemanusiaan betul-betul sedang terjadi dan memuncak menembus titik klimaksnya. Perang atau konflik menjadi pemicu krisis pangan terburuk di Yaman.

Bahkan PBB di awal 2017 lalu mengategorikan krisis kelaparan dan malnutrisi di Yaman adalah kasus kelaparan terbesar. Kasus terbesar jika dilihat dari jumlah penderita malnutrisi, jumlah korban yang tewas, dan ditakar ketidakmungkinan Yaman untuk damai dari perang dalam beberapa bulan ke depan.

Hari ini, ketika di Indonesia – yang baik-baik saja – makanan dengan bumbu rempah sedap mudah sekali ditemui, tapi di Yaman ada 14 juta penduduk, atau 80 persen dari seluruh populasi Yaman berada dalam lingkaran rawan pangan. Sementara itu setengah dari 14 juta jiwa, atau sekitar 7 juta jiwa warga Yaman sudah berada di level krisis kelaparan, di tepian jurang malnutrisi.

Situasi krisis pangan ini pun berdampak paling buruk pada anak-anak. Angka malnutrisi di Yaman meroket tak karuan. Sampai Januari 2017 kemarin, PBB menyebut ada 2,2 juta jiwa jumlah anak-anak Yaman sedang terbelit kasus malnutrisi. Angka ini meningkat 53% di bulan yang sama tahun 2015, beberapa bulan sebelum konflik Yaman meletus pertama kali.

Sejak Maret 2015 sampai dengan Januari 2017 lalu, konflik di Yaman setidaknya sudah membunuh tak kurang dari 10.000 jiwa.

Nelangsa lebih menyayat hati lagi, sejumlah pekerja kemanusiaan di Yaman menyimpulkan, bahwa di Yaman setiap 10 menit ada seorang anak di bawah umur 10 tahun yang mati karena kasus kelaparan dan epidemi kolera, dilansir dari laman middleeasteye.

Padahal Yaman sebelum perang pun tak bisa dikatakan sebagai negeri yang makmur. Hampir seluruh kebutuhan harian negeri itu mengandalkan barang-barang impor. Pelabuhan utama di Teluk Aden adalah pintu masuk dari segala kebutuhan pokok warga Yaman. Tapi hari ini, konflik berkepanjangan memutus total akses barang-barang kebutuhan pokok. Untuk sekadar sebungkus tepung terigu sebagai bahan utama roti, mahal sekali harganya.

Berbuat sesuatu untuk Yaman, Aksi Cepat Tanggap kembali menyiapkan keberangkatan tim Sympathy of Solidarity (SOS) for Yemen. Sesuai rencana, pekan kedua Maret 2017 Aksi Cepat Tanggap akan mengirimkan tim kemanusiaan sampai ke Yaman. Bantuan pangan berupa kebutuhan pokok akan menjadi prioritas utama, memenuhi kebutuhan sebulan-dua bulan untuk warga Yaman yang terjebak lapar dan perang.

Indonesia harus bisa berbuat sesuatu untuk Yaman, kini saatnya umat selamatkan umat. []

 

Bagikan