Lapar di Aden Yaman, Mengharap ada Roti Bisa Dimakan Esok Hari

Lapar di Aden Yaman, Mengharap ada Roti Bisa Dimakan Esok Hari

Lapar di Aden Yaman, Mengharap ada Roti Bisa Dimakan Esok Hari' photo

ACTNews, ADEN - Bisa jadi, tidak banyak orang Indonesia yang mengenal nama Aden, sebuah kota tak terlalu besar, berada di wilayah bagian selatan Negeri Republik of Yaman. Kota ini menghidupi dirinya sebagai kota pelabuhan. Lokasinya yang sangat strategis di tepian Teluk Aden – pintu gerbang sebelum menuju Laut Merah dan Terusan Suez di Mesir – menjadikan Kota Aden ramai oleh aktivitas pelabuhan dan bongkar muat barang.

Kota Aden menjadi pintu gerbang utama segala barang impor yang masuk untuk menyuplai kebutuhan warga Yaman. Sejak Yaman Utara (Ibukota Sanaa) dan Yaman Selatan (Ibukota Aden) menyatukan dirinya menjadi Republik of Yaman di tahun 1990 silam, negeri Yaman memang sangat bergantung sepenuhnya pada urusan impor barang. Nyaris segala kebutuhan di negeri itu, terutama kebutuhan logistik pangan disuplai dari luar Yaman. Karena ketergantungan masif pada barang-barang impor inilah Yaman mendapat julukan sebagai negara Timur Tengah paling miskin. Negeri paling terpuruk dari sisi ekonomi dibanding negeri-negeri arab lain.  

Tapi, ramainya pelabuhan Aden itu kini hanya masa lalu, dipendam sebagai memoar kolektif sebelum perang meletus di Yaman pertengahan tahun 2015. Perebutan kekuasaan dua tahun lalu memicu benih-benih konflik. Merebut dan menguasai terjadi terang-terangan di depan mata.

Terlepas dari siapa yang berkonflik dan hal-hal yang memicunya, krisis kemanusiaan di Yaman akhirnya pecah. Kota Aden bolong dan luluh lantak di sekian banyak sudutnya. Pelabuhan utama gerbang pintu masuk logistik di Yaman itu kini lumpuh dan tidak bergerak. Bahkan bandar udara utama di Aden, menjadi arena pertempuran besar pada bulan Maret sampai Juli 2015 lalu. Dunia menyebutnya sebagai Battle of Aden.

Seperti Aleppo di Suriah, Aden kota industri dan pelabuhan itu kini tidak berdaya. 800.000 jiwa penduduknya ada di jurang kelaparan. Hampir mustahilnya akses laut dan udara untuk memasok kebutuhan logistik membuat Aden nihil makanan, obat-obatan. Ancaman paling buruk, air bersih pun sangat-sangat sulit di dapat di Aden.

“Tidak ada roti, tepung, atau makanan lain yang bisa didapat. Bagaimana bisa kita bertahan? Semua rute transportasi tidak bisa dilalui. Kami bertahan tanpa bantuan sama sekali,” kata Mahmoud, seorang warga Aden, melansir dari laman Vice.

Perang sudah mengubah wajah hampir seluruh Kota Aden. Meski tak sehoror Aleppo di Suriah, tapi perlahan Aden sedang mengarah menuju titik hancur serupa Aleppo.

Malah, sebelum Aden kini porak-poranda, Ibukota Yaman sudah lebih dulu menjadi arena pertempuran pihak-pihak yang berseteru. Tengok saja sekarang kota Sana’a, kota terbesar di Yaman yang kini jauh lebih hancur dan porak-poranda dibandingkan Aden. Sana’a, sang Ibukota Republik Yaman dikuasai sepenuhnya oleh milisi Houthi. Sejak awal konflik Yaman meletus, Sanaa jadi target utama pihak-pihak yang memburu ego dan kepentingannya dengan cara mengangkat senjata, melepas roket, dan memburu musuh mereka dengan rudal-rudal udara. Hasilnya? Sanaa hari ini adalah kota mati. Ibukota negeri itu, pindah untuk waktu yang tidak ditentukan ke Kota Aden.

Tapi Aden pun hari ini menatap masa depan yang serupa. Lebih tepatnya tanpa masa depan.

“Satu hal kenyataan paling buruk yang kini terjadi di Aden adalah tidak ada yang tahu kapan (konflik) ini akan berakhir. Tidak ada yang paham tentang masa depan konflik ini. Atau mungkin malah tidak ada masa depan yang baik untuk Aden,” kata seorang dokter yang bertugas di sebuah rumah sakit “berjalan” di Aden.

Melansir data medis dari Doctors Without Borders, tidak ada sehari pun Kota Aden berhenti dari desing peluru. Akibat eskalasi konflik yang makin keruh ini, setiap harinya setidaknya ada 50 pasien yang keluar masuk rumah sakit di Aden. Luka menganga karena dihantam rudal, luka tertembak di punggung, perut, dada, sampai mereka yang tewas.

“Aden sedang berada dalam fase krisis medis akut. Krisis yang terjadi karena terlalu banyaknya jumlah pasien terluka yang harus ditangani setiap harinya. Bayangkan dalam satu minggu ada 350 pasien terluka parah karena senjata berat yang harus dioperasi dan dibebat perban di atas lukanya,” tulis Doctors Without Borders, melansir Vice.

Ketika sebungkus roti hampir mustahil didapat, Aden pun sedang menghadapi peliknya masalah penyakit menular. Mereka yang mengungsi karena rumah dihantam bom dan artileri berat kini harus berhadapan dengan infeksi malaria dan demam berdarah akut. Sampah yang menumpuk dimana-mana, air bersih yang nihil, ditambah dengan banyaknya rawa-rawa di Aden, memicu merebaknya kasus malaria akut.

“Kami di sini kelaparan, tidak ada sama sekali nasi atau tepung untuk membuat roti. Tidak ada susu sama sekali. Tidak ada yang menjual roti. Bisa apa lagi kami di kota ini?” kata seorang pengungsi di kamp refugee yang berada di Sheikh Othman District.

Bergerak untuk meredam lapar di Aden Yaman, pekan kedua Maret 2017, Aksi Cepat Tanggap bergegas menyiapkan tim Simpathy of Solidarity for Yemen 2017. Rencananya, tim akan masuk ke Yaman melalui Pelabuhan Aden di pekan kedua atau pekan ketiga Maret.

Bagi Aksi Cepat Tanggap, bantuan dari Indonesia sampai ke Yaman bukan kali pertama. Sudah sejak setahun lalu Aksi Cepat Tanggap berkolaborasi dengan mitra lokal di Yaman untuk distribusi sejumlah paket bantuan. Mulai dari paket Sedekah Pangan yang berisi bantuan logistik pangan, sampai ke distribusi daging qurban dalam Global Qurban 2016. []

Bagikan