Larangan Mudik Buat Awak Bus AKAP Kelimpungan Penuhi Kebutuhan

Jelang lebaran menjadi waktu yang ditunggu-tunggu para awak bus AKAP meraup untung. Namun, kebijakan peniadaan mudik membuat peluang itu tertutup. Tidak adanya bantuan dapat membuat mereka kelimpungan memenuhi kebutuhan selama larangan diberlakukan.

Agen tiket bus
Agen tiket bus sedang menunggu penumpang di loket Terminal Lebak Bulus, Sabtu (1/5/2021). (ACTNews/Muhamad Ubaidillah)

ACTNews, JAKARTA — Kebijakan pelarangan mudik dalam pencegahan penyebaran Covid-19 membuat para awak bus Antarkota Antarprovinsi (AKAP) menjerit. Pasalnya mereka terancam “gagal panen” akibat kebijakan tersebut. Mereka tak dapat pemasukan, padahal jelang Ramadan menjadi waktu yang ditunggu-tunggu. Meski terdampak, tahun ini para awak bus tak mendapat insentif atau bantuan.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan, pemberlakukan kebijakan larangan mudik seharusnya dibarengi dengan solusi bagi yang terdampak. Karena para awak bus tidak mendapat gaji bulanan layaknya tenaga administrasi di kantor-kantor otobus. 

“Para awak kendaraan seperti sopir dan kernet itu di luar tanggungan. Artinya bekerja dengan mendapat upah, kalau enggak kerja ya upahnya enggak ada. Sehingga selama 11 hari itu (6-17 Mei) mereka kelimpungan. Makanya saya sarankan berikan bantuan atau insentif bagi mereka,” kata Djoko saat dihubungi ACTNews, Rabu (5/5/2021). 

Merespons hal tersebut, Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khajar mengatakan, momen menjelang lebaran merupakan kesempatan bagi para awak bus meraup penghasilan yang besar. Namun, adanya kebijakan peniadaan mudik untuk mencegah penyebaran Covid-19, para pekerja angkutan umum kehilangan kesempatan tersebut. 

“Banyak dari mereka (awak angkutan bus antarkota antarprovinsi atau AKAP) kehilangan penghasilan, padahal keluarga-keluarga mereka di rumah menunggu hasilnya, berharap bisa membeli baju lebaran. Namun karena kesempatan itu tidak ada, maka kami berkomitmen untuk memberikan bantuan kepada para pekerja bus,” kata Ibnu, Ahad (2/4/2021).  

Nantinya, lanjut Ibnu, ACT akan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan transportasi untuk pendistribusiannya. Bahkan, bantuan tidak hanya untuk sopir, tapi juga untuk kernet dan agen tiket bus-bus AKAP. 


Suasana loekt di Terminal Purabaya, Surabaya, Senin (3/5/2021). (ACTNews/Muhamad Ubaidillah)

“Khususnya untuk pekerja bus-bus AKAP, kita akan berikan paket pangan dan menjelang lebaran kita insyaallah akan berikan paket lebaran. Ini komitmen kemanusiaan juga untuk menyemangati mereka bahwa semua elemen bangsa membersamai mereka dalam kondisi susah seperti sekarang,” jelas Ibnu. 

Selanjutnya Ibnu mengajak masyarakat untuk bergotong royong membantu saudara-saudara yang sedang dalam kesulitan. Sehingga, beban mereka di saat sulit bisa diringankan dan tetap bertahan.

Ramadan tahun ini, melalui Surat Edaran No 13 Tahun 2021, Satgas Pengendalian Covid-19 melarang aktivitas mudik dari sejak 6-17 Mei. Alasan pelarangan ini untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Indonesia. Angkutan mudik mulai darat, laut, udara, dan kereta api pun ditiadakan. []