Laut Tercemar, Krisis Air Suriah Makin Mematikan

Lepas pantai di Baniyas, Suriah, telah menjadi pusat polusi air di Negeri Syam. Tumpahan minyak dan buangan limbah telah mencemari perairan di sana. Dampaknya bukan hanya ke biota laut, namun juga ke seluruh penduduk Suriah.

krisis air suriah
Ilustrasi. Krisis air Suriah makin parah usai perairan di Pantai Timur Suriah tercemar. (UN/Souleiman)

ACTNews, SURIAH – Konflik yang telah berlangsung selama lebih dari 10 tahun di menyebabkan kerusakan besar di Suriah. Terbaru, konflik telah menyebabkan pipa kilang minyak bawah air di lepas pantai dekat pelabuhan Baniyas, Suriah, mengalami kebocoran. Melepaskan ribuan minyak ke laut Mediterania.

Hal ini tidak hanya berdampak buruk pada biota laut di perairan tersebut, namun juga menjadikan pantai Baniad sebagai pusat polusi air di Suriah. Berdasarkan studi dari  salah satu organisasi pembangunan perdamaian PAX, polusi di pantai tersebut semakin parah karena buruknya tata kelola sistem pembuangan limbah.

“Padahal, wilayah pesisir Suriah merupakan sumber mata pencaharian penting bagi nelayan di sektor perikanan. Perairan tersebut juga menampung banyak ekosistem laut yang unik namun rapuh,” kata laporan PAX.

Dari studi yang dilakukan PAX, peningkatan tumpahan minyak mulai terjadi antara tahun 2019 hingga 2021. Namun puncaknya adalah bulan Agustus lalu, di mana kebocoran yang terjadi sangat besar, bahkan tumpahannya mencapai perairan Siprus dan Turki.

Polusi ini pun tidak hanya berdampak pada warga di pesisir, namun juga akan mempengaruhi seluruh warga Suriah yang saat ini sedang dilanda kekeringan parah. Tumpahan minyak, disebut PAX, berdampak pada sumber air serta lahan pertanian di wilayah timur Suriah.

Rusaknya lahan pertanian berpengaruh pada produksi pangan dari hasil pertanian yang akan menurun. Hal tersebut menyebabkan kerawanan pangan yang juga akan meningkat di Suriah, karena sumber pangan yang akan berkurang.

Sementara itu, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, Suriah saat ini menghadapi kekeringan terburuk dalam 70 tahun terakhir. Jutaan warga kesulitan untuk dapat memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Termasuk untuk beribadah` dan konsumsi. Masyarakat di beberapa daerah di seluruh Suriah, termasuk Hassakeh, Aleppo, Raqqa dan Deir Az Zor, dilanda peningkatan wabah penyakit yang ditularkan melalui air. Seperti diare, kolera, dan beberapa jenis penyakit kulit.[]