Layanan Medis Berkelanjutan Redam Masalah Kesehatan di Yaman

Selain pangan yang tidak memadai, kondisi kesehatan diperparah dengan kondisi air dan sanitasi yang buruk. Keadaan itu membuat sumber penyakit, seperti kolera dan malaria, amat mudah menyerang masyarakat Yaman.

ACT membuka layanan kesehatan untuk masyarakat Yaman pada Januari-Februari 2021
ACT membuka layanan kesehatan untuk masyarakat Yaman pada Januari-Februari 2021. Pelayanan kesehatan untuk masyarakat Yaman sangat penting karena rentan akibat berbagai masalah pangan dan kesehatan. (ACTNews)

ACTNews, HAMDAN – Layanan kesehatan sangat penting bagi umat manusia. Terutama di wilayah konflik seperti Yaman. Lebih dari 2,25 juta anak-anak berusia 0-59 bulan, dan satu juta lebih wanita wanita hamil mengalami malnutrisi atau nutrisi tidak seimbang—baik kurang atau kelebihan—sehingga butuh penanganan kesehatan yang baik di Yaman.

Kondisi pangan yang tidak memadai diperparah dengan kondisi air, sanitasi, dan kebersihan yang buruk. Hal ini secara signifikan menambah risiko malnutrisi di Yaman. Wabah penyakit seperti kolera dan demam berdarah juga bermunculan akibat keadaan tersebut. 

Meredam permasalahan tersebut, Aksi Cepat Tanggap melakukan layanan kesehatan berkelanjutan. Januari - Februari ini, pemeriksaan medis dan pengobatan gratis itu dilakukan di Distrik Hamdan, Sana'a. 

Amir Firdaus dari Tim Global Humanity Response-ACT menerangkan, pelayanan kesehatan yang ditangani ACT adalah kasus gizi buruk pada anak dan ibu hamil atau menyusui, kasus kesehatan pada anak, kesehatan reproduksi, vaksinasi, dan penyakit umum lainnya. Aksi ini dilakukan oleh empat relawan dokter.

“Total ada 107 jiwa, terdiri dari anak-anak dan ibu hamil atau menyusui, mengalami malnutrisi. Lalu 53 jiwa mengalami gangguan kesehatan anak, 34 ibu memeriksakan kesehatan reproduksi. Selain itu, total ada 12 anak yang berusia lebih dari satu tahun menerima vaksinasi. Lalu, 12 remaja dan ibu berusia 15-45 tahun menerima vaksin tetanus. Paling banyak melakukan pemeriksaan penyakit umum yakni 1.664 jiwa," ujar Amir. 

Amir juga menegaskan, perlindungan warga sipil harus tetap menjadi prioritas di Yaman. Tingkat kerentanan tertinggi terkonsentrasi di lokasi pengungsian sebab sangat sedikit tersedia layanan kesehatan. []