Lebaran Kurban di Alor, Sapi Berenang sampai Pulau Kura

Lebaran Kurban di Alor, Sapi Berenang sampai Pulau Kura

Lebaran Kurban di Alor, Sapi Berenang sampai Pulau Kura' photo

ACTNews, KABUPATEN ALOR - Selalu ada cerita tentang perjuangan epik dalam sebuah perjalanan melintasi medan terberat, menembus wilayah paling pelosok di Indonesia. Kisah-kisah epik tentang perjalan darat, laut maupun udara inilah yang selalu saja terulang setiap tahunnya ketika implementasi Global Qurban (GQ) di wilayah-wilayah tepian negeri, wilayah paling pelosok, paling sulit dijangkau, paling terisolasi dibanding gemerlap kota-kota lain di Indonesia.

Seperti Lebaran Kurban September 2017 kemarin, GQ membawa jauh amanah sapi-sapi kurban dari masyarakat Indonesia hingga ke kawasan tepian negeri. Salah satu kisah itu berasal dari zona waktu Indonesia bagian Timur, tepatnya di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kami, Tim Implementasi GQ untuk kawasan Nusa Tenggara Timur sudah berada di Alor sejak sebelum gema takbir itu bersua lantang di malam takbiran. Malam itu, Kamis (31/8), gema suara takbir mulai riuh dari setiap penjuru Alor, menambah syahdu suasana malam di Pelabuhan Kalabahi. Dari sana, tim GQ akan memulai perjalanan menuju Pulau Kura, salah satu wilayah paling sulit aksesnya di Kabupaten Alor.

Bahkan, untuk tiba di Alor pun butuh tenaga prima dan fisik yang kuat, sebab ada banyak sekali rentetan perjalanan yang harus dilalui satu per satu. Dari Jakarta tiba di Kupang, dari Kupang ke Alor ada sebuah pesawat yang terbang harian dengan muatan yang padat dan penuh rata kursi.

Tiba di Alor, tim GQ langsung bergegas menuju ke Pelabuhan Kalabahi, tapi jangan bayangkan yang menunggu adalah kapal penumpang besar. Hanya ada satu perahu nelayan tak beratap dengan mesin belakang yang imut. Hanya itu perahu yang bakal membawa Tim GQ menuju Pelabuhan Baranusa di Pulau Pantar.

Dari Pelabuhan Kalabahi menuju Baranusa harus ditempuh dalam durasi paling cepat 5 jam, tergantung seberapa hebat laju ombak menyentak dan menghambat badan perahu. Setelah itu masih ada perjalanan laut sekali lagi sampai tiba di Pulau Kura, pulau kecil di seberang Pulau Pantar.

Perlahan tapi pasti, perahu nelayan dengan daya tampung hanya 5 orang itu gagah menembus ganasnya angin lautan di malam hari. Perjalanan malam di tengah laut jelas punya risiko dua kali lipat lebih besar. Apalagi di tengah laut, cuaca berubah tiba-tiba, angin makin besar juga ombak makin meninggi.

Suasana mencekam mengirim langkah perjalanan tim GQ untuk sampai di Pulau. Perjalanan hanya dibekali cahaya bulan menjadi ikhtiar terbesar Tim GQ bisa berbagi kebahagiaan kurban bersama masyarakat Pulau Kura.

Sesampainya di Pelabuhan Baranusa lewat tengah malam, Tim GQ beristirahat sejenak di salah satu rumah warga. Esok paginya, ketika fajar datang kembali, sekali lagi perjalanan menyeberang dari Pulau Pantar ke Desa Piringsina Pulau Kura. Satu dari delapan pulau yang tersebar di Kabupaten Alor.

Sapi dibawa berenang dari Baranusa ke Pulau Pura

Salat Idul Adha selesai ditunaikan di Pelabuhan Baranusa. Selepas salat, kami dan warga lokal Pulau Kura punya ide unik untuk membawa sapi menyeberang menuju Pulau Kura. Caranya sederhana saja: si sapi bakal berenang!

Sebenarnya Pulau Kura hanya berjarak lima sampai sepuluh menit perjalanan menyeberang kapal dari Baranusa, tapi sapi tak bisa dibawa di atas perahu nelayan. “Sapi itu aslinya suka berenang kok. Sapi kita lepas di laut bisa menyeberang dari satu pulau ke pulau lain,” kata Arafah warga lokal yang menjadi mitra Global Qurban di Alor.

Dari dermaga Baranusa, seekor sapi besar digiring berenang menuju Pulau Kura, tepatnya ke Desa Piringsina, satu-satunya desa di pulau kecil dengan luasan hanya 1 km persegi. Meski kecil, tapi di Pulau Kura ada sekitar 900 jiwa penduduk, dengan mayoritas memegang teguh agama Islam.

Hanya ada dua hal di Pulau Kura, laut yang eksotis dan pulau yang tandus. Ya begitulah wilayah Kepulauan Alor, hanya ada cerita tentang lautnya yang indah mempesona, tapi di sisi lain Alor pun gambaran tentang salah satu wilayah paling tandus di Indonesia.

Pohon-pohon terlihat menguning dan rapuh, semuanya mati. Apalagi air bersih, di Pulau Kura sangat sulit mendapat seember kecil air bersih. “Jika musim kering tiba, di sini semuanya seakan mati. Pohon-pohon kering, tandus dan berdebu. Kebutuhan air bersih sangat sulit didapatkan, mereka harus menyeberang keluar Pulau Kura setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasarnya,” ujar Arafah.

Begitupun dengan fasilitas sekolah, pasar, dan warung kelontong sederhana, semua harus dicapai dengan mendayung perahu kecil menyeberang keluar menuju Pelabuhan Baranusa.

Sekantong daging jadi kado lebaran kurban di Pulau Kura

Setelah berenang sekira 20 menit sembari dituntun dari atas perahu, si sapi selamat sampai ke Pulau Kura. Bahkan sebelum sampai merapat di Dermaga kecil Pulau Kura, sorak gembira masyarakat Piringsina sudah membuncah. “Seakan menemukan kebahagiaan yang belum pernah ada. Mereka girang bukan main karena tahun lalu tidak ada kurban yang datang ke Pulau Kura,” seru Arafah.

Menjelang siang, si sapi selesai disembelih. Warga Piringsina satu per satu ikut membantu mencacah, dan membungkus daging kurban untuk dibagikan tiap keluarga. “Saya terharu sekali, tak menyangka bisa makan daging di kurban tahun ini. Semoga Global Qurban setiap tahun datang lagi ke sini. Kami semua bahagia walau hanya setahun sekali," ujar Makbudopong (55) pria paruh baya yang kini tinggal di sebuah rumah bilik kayu ukuran tak lebih dari 2x2 meter.

Kedatangan Global Qurban juga dirasakan bawa kebahagiaan bagi Kades Piringsina. Sekantong daging kurban memang tak bisa menyelesaikan ribuan masalah yang ada di Desa Piringsina. Namun, sekantong daging hewan kurban ini setidaknya menjadi kado bagi masyarakat Piringsina

“Lihat mereka, bahagia terpancar dari setiap wajah. Anak-anak, dewasa, dan orang tua. Semua tertawa riang bahagia bisa makan daging kurban. Ini pertama kalinya Global Qurban sampai ke pulau terpencil ini,” pungkasnya. []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan