Lebih dari Setengah Abad, Ohi Madsohi jadi Guru Honorer

Bantuan biaya hidup diberikan Global Zakat-ACT kepada para sejumlah guru honorer di SMPIT Al Kautsar di Desa Nambo, Kecamatan Klapanunggal, Bogor sebagai upaya meringankan beban para guru yang berpenghasilan rendah. Bantuan itu diterima, salah satunya, oleh Ohi Madsohi.

Ohi Madsohi menerima bantuan biaya hidup dari para dermawan lewat Global Zakat-ACT.
Ohi Madsohi menerima bantuan biaya hidup dari para dermawan lewat Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, BOGOR – Sudah sekitar 51 tahun Ohi Madsohi (71) mengabdikan dirinya menjadi guru di  SMPIT Al Kautsar di Desa Nambo, Kecamatan Klapanunggal, Bogor. Kecintaan Ohi terhadap dunia pendidikan, membuat dirinya memutuskan untuk tidak pensiun meski telah berusia senja. Padahal, statusnya sampai saat ini masih sebagai guru honorer

Sudah bukan rahasia jika guru honorer di Indonesia menerima gaji yang jauh dari kata layak. Meskipun telah mengabdi belasan bahkan puluhan tahun seperti Ohi.

Meskipun penghasilan Ohi sangat kecil, semangatnya dalam memberikan ilmu kepada para murid tidak pernah luntur. "Saya sangat bersyukur saya tidak menjadi PNS atau pegawai sebuah perusahaan sehingga saya tidak harus pensiun di usia 65 tahun. Karena di usia saya yang sudah 71 ini, saya ingin mewakafkan diri saya untuk pendidikan demi mencerdaskan anak-anak bangsa di negeri ini,” ucap Ohi, Rabu (14/4/2021). Untuk mendukung semangat Ohi, Global Zakat-ACT melalui program Sahabat Guru Indonesia memberikan bantuan biaya hidup kepada Ohi.

"Bantuan biaya hidup ini adalah amanah dari para dermawan melalui Global Zakat-ACT. Insyaallah akan berguna untuk para guru, agar mereka bisa terus bersemangat dalam mengajar para murid-murid di sekolah," ujar Riski Andriyani, tim dari Sahabat Guru Indonesia Global Zakat-ACT.


Sejumlah guru honorer di SMPIT Al Kautsar di Desa Nambo, Kecamatan Klapanunggal, Bogor yang menerima bantuan biaya hidup (ACTNews).

Tidak hanya Ohi, ACT juga memberikan bantuan biaya hidup ke guru honorer lainnya di SMPIT Al Kautsar yang termasuk masyarakat prasejahtera. Para guru honorer yang menerima bantuan tersebut mengaku sangat senang sekaligus bersyukur atas apa yang mereka terima.

Riski menuturkan, masih banyak guru honorer yang nasibnya tidak diperhatikan di Indonesia. Menurut Riski, perhatian lebih dibutuhkan bagi pengajar yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup karena jasa mereka sangat dibutuhkan untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.[]