Lemahnya Ekonomi Tak Surutkan Ikhtiar Fadhil Sembuhkan Rifqi

Pekerjaan Fadhil, ayah Rifqi, bocah yang mengalami bocor jantung, hanya sebagai petani di lahan milik orang lain. Tak ada gaji besar tiap bulannya. Keadaan itu juga yang membuat pengobatan Rifqi sempat tertunda.

Lemahnya Ekonomi Tak Surutkan Ikhtiar Fadhil Sembuhkan Rifqi' photo
Rifqi (tengah) didampingi ibu dan ayahnya berfoto di depan rumah mereka yang ada di Bieureun. Keluarga petani itu saat ini sedang berjuang menyembuh Rifqi yang mengalami bocor jantung. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Ponsel “jadul” menjadi satu-satunya alat komunikasi yang Fadhil bawa ke ibu kota. Layarnya pun hanya bisa menampilkan karakter huruf dan yang terbatas jumlahnya. Layarnya berwarna biru dengan tulisan berwarna hitam. Namun, ponsel itu lah yang mampu melepas kerinduan Fadhil dengan sang istri dan dua anaknya yang saat ini berada di Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen.

Sejak pertengahan Agustus lalu, Fadhil berada di Jakarta bersama anak pertamanya, Muhammad Rifqi. Ia bertugas menemani sang anak yang berkesempatan menjalani operasi bocor jantung di Rumah Sakit Harapan Kita dari biaya jaminan kesehatan pemerintah dan seluruh biaya operasionalnya ditanggung dari donasi dermawan serta dana zakat Global Zakat-ACT. Tanpa bantuan tersebut, Fadhil mengatakan, mungkin sangat sulit baginya menyembuhkan anak pertamanya itu dengan biaya sendiri.

Di Bireuen, Fadhil hanya berprofesi sebagai petani penggarap lahan orang lain. Sawah tadah hujan yang tak seberapa luas ia tanami padi. Ia menjelaskan, tiap tiga hingga tiga setengah bulan masuk masa panen. Hasilnya pun Fadhil mengaku tak pernah dijual, melainkan dibagi dengan pemilik lahan dan sisanya ia simpan untuk makan sendiri.

“Setiap panen dibagi hasil sama yang punya tanah. Tapi jatah saya ya enggak dijual, dimakan buat keluarga saja,” jelas Fadhil saat ditemui ACTNews di indekosnya bersama sang anak yang berada di gang sempit samping RS Harapan Kita, Rabu (17/9).

Tak dijualnya hasil panen padi tersebut, tutur Fadhil, agar ia dan keluarga tak lagi mengeluarkan uang untuk membeli beras yang menjadi makanan pokok. Sedangkan, untuk lauk dan uang tambahan, Fadhil juga memiliki kebun dengan lahan yang juga milik orang lain. Di sana, ia menanam sayur-mayur seperti kacang panjang untuk kemudian sebagian hasilnya dijual dan sebagian lain dikonsumsi sendiri. Jika dirata-rata, pria kelahiran tahun 1964 itu per bulan hanya mengantongi uang dengan nilai ratusan ribu saja.

Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas ini, Fadhil harus mencukupi kebutuhan seorang istri yang juga ikut sebagai buruh tani dan tiga anaknya yang semua masih usia sekolah. Ia pun sempat bingung ketika mengatahui anak pertamanya, Rifqi, dinyatakan dokter mengalami kelainan jantung. Hal tersebut karena ia tak memiliki tabungan serta jaminan kesehatan dari pemerintah saat pertama kali memeriksakan anaknya itu pada akhir 2018 lalu.

Iktiar mengobati Rifqi

Tahun 2019, dengan tabungan yang tak seberapa dan dibantu salah satu kerabat, Fadhil terbang ke Jakarta membawa anak pertamanya ke RS Harapan Kita. Namun, pengobatan tak sampai tahap operasi dan tak banyak mengubah kondisi Rifqi. Kemudian di tahun 2020 ini, Fadhil bersama anak pertamanya kembali lagi ke Jakarta, namun kali ini bersama pendapingan oleh tim Global Zakat-ACT.

Seluruh biaya mulai berangkat dari rumah, akomodasi, konsumsi di Jakarta hingga kembali lagi ke rumah ditanggung Global Zakat-ACT. Dana yang digunakan berasal dari penggalangan donasi ACT melalui Kitabisa dan dana zakat yang dikumpulkan Global Zakat.

“Di Aceh, tim Global Zakat-ACT dan Masyarakat Relawan Indonesia Aceh yang melakukan pendampingan. Dan selama di Jakarta, pendampingan dilanjutkan oleh tim Mobile Social Rescue dari ACT Pusat,” jelas Koordinator MSR Nurjannatunaim, Rabu (16/9).

MSR sendiri merupakan program yang melakukan berbagai pendampingan sosial, salah satunya medis. Program ini berlaku secara menyeluruh, bahkan bagi penduduk di negara yang sedang dirundung konflik kemanusiaan seperti Palestina. Dana yang digunakan diambil dari dana zakat yang masyarakat salurkan melalui Global Zakat. Hingga kini, penggalangan untuk dana zakat yang akan digunakan untuk berbagai program kebaikan pun masih dibuka. Dukungan untuk aksi ini pun terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.[]

Bagikan

Terpopuler