Lentera Pendidikan di Sekitar Tumpukan Sampah

Di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sumur Batu, Bantargebang, Bekasi, berdiri Sekolah Alam Tunas Mulia. Hadirnya sekolah ini seakan menyulut harapan akan hadirnya masa depan yang lebih baik untuk anak didiknya.

Anak-anak di Sekolah Alam Tunas Mulia tengah menikmati sajian makanan siap santap yang didistribusikan ACT Bekasi. (ACTNews)

ACTNews, BEKASI Wajah para santri Pondok Tahfiz Al-Quran Sekolah Alam Tunas Mulia, Bekasi, tampak tidak seperti biasanya. Aroma tak sedap yang jadi teman keseharian para santri tertutupi oleh kebahagiaan mereka menyambut kedatangan tim Aksi Cepat Tanggap Kota Bekasi. Di awal Juni, ACT menyambangi lembaga pendidikan tersebut untuk mendistribusikan paket pangan berupa makanan siap santap.

Sebanyak 35 orang meliputi 20 santri beserta para pengurus yayasan tampak lahap menikmati santapan siang itu. Bisa dibilang, menu tersebut jarang mereka dapati di hari biasanya. 

“Program ini sangat bermanfaat bagi kami terutama yang menetap di pondok, ada sekitar 20 santri serta 15 orang pengurus yayasan dan guru. Ini sangat meringankan kebutuhan sehari-hari kami. Terima kasih untuk ACT sehingga anak-anak bisa menikmati dengan bahagia menu yang spesial,” ujar Widiyanti, salah satu Pendiri Sekolah Alam Tunas Mulia.

Widiyanti menambahkan, Sekolah Alam Tunas Mulia merupakan sekolah gratis yang diperuntukkan bagi anak-anak prasejahtera dari berbagai macam latar belakang keluarga. Biaya pendidikan di sana tanpa dipungut biaya sepeser pun alias gratis. Khusus program Tahfiz Al-Quran, para santri menetap dipondok yang berjarak tidak jauh dari lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bantargebang, Bekasi. Sehingga wajar, aroma tak sedap seakan jadi teman sehari-hari mereka.

Meskipun tanpa dipungut biaya, sekolah alam  ini, harap Widiyanti, dapat menjadi lentera masa depan anak-anak di sekitar tempat pembuangan sampah tersebut. Sejak berdiri tahun 2019, tempat pendidikan ini memang dihadirkan sebagai salah satu kemudahan akses pendidikan untuk anak dari keluarga ekonomi prasejahtera.

“Alhamdulillah ada bantuan dari ACT ini sangat membantu, karena memang kami semua mandiri mengelola pesantren, dengan mengedepankan konsep santripreneur,” terangnya.

Selain dari para donatur yang tidak setiap saat mengirimkan bantuan, pesantren mengajak santrinya mengelola berbagai macam kegiatan produktif untuk memenuhi kebutuhan harian pesantren. Budidaya pertanian serta ternak seperti lele, ayam dan bebek menjadi salah satu sumber pemasukan.

“Karena kami sekolah bebas biaya, jadi sebisa mungkin mengelola keuangan dengan baik agar kebutuhan santri bisa terpenuhi. Kalau hanya mengandalkan donatur tidak maksimal nantinya,” tutur Widiyanti.

Widiyanti pun berharap, dengan bekal pendidikan dari sekolah alam, anak-anak yang datang dari berbagai macam latar belakang keluarga bisa memiliki masa depan yang lebih baik lewat jalan pendidikan. Selain itu, bermanfaat bagi lingkungan juga menjadi harapan besar.

“Tujuan awal dibangun pesantren ini, kami berharap agar setelah anak-anak lulus bisa bermanfaat baik bagi diri maupun orang lain dan lingkungan sekitarnya. Intinya seperti itu, tidak banyak dan tidak muluk-muluk harapan kami,” pungkas Widiyanti.[]