Libur Mengajar, Ijad Beralih Menjadi Buruh Tani Selama Pandemi

Sebagai guru honorer, Ijad (51) beralih profesi sebagai buruh tani untuk tetap memenuhi kebutuhan keluarga.

Ijad (51) guru honorer yang sudah mengajar di MDTA Al Hikmah Tasikmalaya sejak tahun 1989 sementara kehilangan pekerjaan. (ACTNews/Rimayanti)

ACTNews, TASIKMALAYA Ijad (51) guru honorer yang sudah mengajar di MDTA Al Hikmah sejak tahun 1989 sementara kehilangan pekerjaan. Sudah lebih dari sebulan Ijad dirumahkan. Sekolah tempatnya mengajar diliburkan sehingga kegiatan belajar mengajar ditiadakan.

Sebelum Covid-19 melanda, Ijad digaji 40-45 ribu rupiah per bulan. “Iya, sekolah diliburkan jadi tidak ada penghasilan sama sekali,” cerita Ijad sambil tersenyum, saat ditemui tim Global Zakat Tasikmalaya, Selasa (14/4) lalu. Saat ini, Ijad menjadi buruh tani untuk memenuhi kebutuhan istri dan ketiga anaknya.

Ijad menerima upah Rp50 ribu sehari setiap kali menjadi buruh tani, namun pekerjaan itu tidak sepenuhnya ada. Belum lagi, Ijad dan keluarga tinggal di rumah tua yang sebagiannya sudah roboh. “Iya ini juga khawatir takut roboh. Sudah separuh yang roboh tapi ya terus saja saya akan berjuang karena rezeki datang dari jalan yang tidak disangka-sangka,” ungkap Ijad.

Sementara itu, M. Fauzi Ridwan dari Tim Program ACT Tasikmalaya mengatakan, bantuan biaya hidup guru honorer sangat dibutuhkan di masa pandemi Covid-19 karena mereka kehilangan mata pencaharian. “ACT merespons hal tersebut melalui program Sahabat Guru Indonesia. Insyaallah, di Tasikmalaya ACT akan berlangsung hingga beberapa waktu ke depan,” kata Fauzi.[]