Lika-Liku Keluarga Yuni Hadapi Pandemi

Berawal dari modal 3 pelanggan dan modal Rp100 ribu pada 4 tahun lalu, Yuni akhirnya memiliki tak kurang dari 40 pelanggan untuk kateringnya. Pelanggannya kembali hilang beberapa bulan belakangan akibat pandemi, sehingga Yuni harus berutang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Lika-Liku Keluarga Yuni Hadapi Pandemi' photo
Yuni memegang salah satu masakkan buatannya. (ACTNews)

ACTNews, BANJARMASIN – Yuni Sri Handayani (40 tahun) selama 4 tahun terakhir menjalankan usaha katering rumahan. Berawal dari modal Rp100 ribu, ia memulai usahanya bersama suami yang bekerja sebagai satpam di salah satu bank swasta di Banjarmasin. Dari 3 orang pelanggan, sekarang Yuni memiliki 30 hingga 40 pelanggan.

Kebanyakan dari pelanggannya adalah pekerja kantor. Sebagaimana diketahui, saat ini banyak kantor yang tutup atau libur akibat dari adanya pembatasan jarak fisik. Pelanggan Yuni otomatis berkurang. "Sekarang paling banyak 18 orang per hari," ucap Yuni. Omzet hariannya menurun drastis bahkan hingga 50%.

Dengan penghasilan yang minim, Yuni dan suami harus memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan cara kredit atau berutang. Lika-liku untuk membayar cicilan pun dirasakan oleh mereka. "Pernah membeli sepeda motor dengan cara kredit, tapi kemudian kami oper karena cukup membebani. Namun ternyata teman yang take over itu macet juga (kreditnya), akhirnya kami yang ditagih," kisah Yuni ketika ditemui di rumahnya di wilayah Kelurahan Pekauman, Banjarmasin Selatan.


Ingin memperbaiki keadaan, Yuni berharap bisa memiliki warung untuk masakan-masakannya. Kebetulan ia punya tempat kecil milik mertuanya yang bisa digunakan. Tetapi karena belum memiliki modal, maka ia belum mampu mewujudkannya.

Program Wakaf Modal Usaha Mikro dari Global Wakaf – ACT menjadi jalan Yuni untuk mewujudkan harapan tersebut. "Saya bisa beli perkakas untuk aset warung dengan modal ini. Terima kasih Global Wakaf," ucapnya. Dengan adanya warung, Yuni bisa mengembangkan juga usahanya ke ranah daring. "Insyaallah akan bekerja sama dengan aplikasi online supaya lebih banyak pelanggannya nanti," ungkap Yuni.

Retno Sulisetiyani selaku Koordinator Program Global Wakaf - ACT Kalimantan Selatan pun berharap, para dermawan dapat berpartisipasi dalam program ini sehingga para pelaku usaha kecil seperti Yuni bisa menjalankan usahanya dengan lebih lancar dan tentunya lebih berkah.

”Kami mengajak kepada para dermawan untuk membantu para pelaku usaha yang saat ini sedang kesulitan karena kendala permodalan. Melalui bantuan para dermawan sekalian di program Wakaf Modal Usaha Mikro, mudah-mudahan kita bisa membantu meringankan beban mereka,” harap Retno. []

Bagikan

Terpopuler