LIPI: Imbas Covid-19, Jutaan Buruh kena Potong Gaji dan PHK

Dalam survei yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada 2020 lalu, jutaan buruh kehilangan pekerjaannya akibat pandemi Covid-19. Sementara mereka yang bertahan, terpaksa harus gigit jari karena gajinya dipangkas.

Ilustrasi. Pekerja yang dirumahkan karena Pandemi Covid-19 (ACTNews/Muhamad Ubaidillah)
Ilustrasi. Pekerja yang dirumahkan karena Pandemi Covid-19 (ACTNews/Muhamad Ubaidillah)

ACTNews, JAKARTA – Kasus penyebaran Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, jumlah kasus positif Covid-19 per Mei 2021, telah mencapai 1.697.305 kasus dengan 46.496 kasus kematian. 

Selain kesehatan, pandemi Covid-19 juga berdampak pada ekonomi dan lapangan kerja. Banyak buruh yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) karena perusahaan tempat mereka bekerja mengalami penurunan produksi bahkan berhenti berproduksi.

Berdasarkan data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sekitar 2.084.593 pekerja dari 116.370 perusahaan dirumahkan dan terkena PHK. Jumlah ini diperkirakan terus bertambah seiring pandemi yang tidak kunjung usai.

Selain itu, LIPI juga turut melakukan survei untuk melihat lebih jauh dampak Covid-19 ini kepada para pekerja. Hasilnya, terjadi gelombang PHK tenaga kerja dan penurunan pendapatan sebagai akibat terganggunya kegiatan usaha pada berbagai sektor. Sebanyak 15,6 persen pekerja mengalami PHK dan 40 persen pekerja mengalami penurunan pendapatan.

Bukan hanya kepada para buruh, survei yang melibatkan 2.160 responden di 34 provinsi di Indonesia ini juga menyatakan Covid-19 membuat 40 persen usaha pelaku usaha mandiri di Indonesia terhenti. Sebanyak 52 persen lainnya mengalami penurunan kegiatan produksi.

Lebih jauh, survei tersebut menyatakan Covid 19 juga berdampak pada pekerja bebas sektor pertanian dan non-pertanian atau pekerja “serabutan” yang bekerja jika hanya ada permintaan. Hasil survei menunjukkan sebanyak 55 persen pekerja bebas pertanian dan non-pertanian sudah tidak memiliki panggilan kerja, sementara 38 persen order berkurang. Jika dilihat dari pendapatan, sebanyak 58 persen pekerja bebas tidak memiliki pendapatan selama masa pandemi Covid-19, sementara 28 persennya mengaku pendapatang berkurang  hingga 30 persen.

Dari hasil survei tersebut, LIPI memprediksi 10 juta pengusaha mandiri akan berhenti bekerja, dan 10 juta lainnya pendapatannya akan menurun lebih dari 40 persen. Sementara sebanyak 15 juta pekerja bebas atau akan menganggur.

Angka kemiskinan akibat adanya penurunan upah dan tanpa pendapatan ini pun diperkirakan akan mencapai 17,5 juta rumah tangga dengan asumsi Garis Kemiskinan adalah 440 ribu per kapita per bulan.


Ilustrasi. Salah satu penerima manfaat beras. (ACTNews)

Membantu Kebutuhan Pangan

Realita tersebut menginspirasi Aksi Cepat Tanggap membuat Gerakan Sedekah Pangan Nasional. Di Ramadan ini, ikhtiar itu semakin dikutakan dengan mengembangkan program Ramadhan Care Line. Pada 10 hari terakhir Ramadan, layanan Ramadhan Care Line dibuka menjadi 24 jam.

Koordinator Ramadan Care Line Pungki Martha Kusuma menyampaikan, tiga hari pertama Ramadhan Care Line beroperasi 24 jam, panggilan yang masuk jauh meningkat dibanding hari-hari sebelumnya. Biasanya, telepon yang masuk maksimal hanya mencapai seribu panggilan per hari. Namun dalam tiga hari ini, telepon yang masuk mencapai  8.766 panggilan.

Selain calon penerima manfaat, penelepon juga datang dari kerabat, tetangga calon penerima manfaat, hingga ketua RT yang ingin membantu warganya yang butuh bantuan pangan.