Longsor Kali Bebeng Magelang, Tim ACT Evakuasi 8 Korban Meninggal Dunia

Longsor Kali Bebeng Magelang, Tim ACT Evakuasi 8 Korban Meninggal Dunia

ACTNews, MAGELANG - Dalam gerimis dan cuaca mendung seharian penuh, Selasa (19/12) seluruh tim gabungan operasi search and rescue (SAR) berkumpul di Pos Dusun Grubuhan, Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pakaian dan celana mereka masih penuh lumpur dan tanah. Selasa sore itu, pemimpin operasi SAR dari Polres Magelang menyatakan operasi SAR akhirnya ditutup. Operasi SAR dinyatakan rampung setelah seluruh korban tewas berhasil ditemukan dan diidentifikasi.

Sudah dua hari berselang, sejak Senin (18/12) siang, operasi SAR dilakukan intensif oleh tim gabungan dari berbagai pihak. Tim gabungan yang terlibat juga termasuk tim dari Emergency Response ACT Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Seluruh tim Emergency Response ACT DIY yang diturunkan ke Kali Bebeng berasal dari relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) – ACT DIY.

Fathul Azim Hidayat, salah satu relawan MRI DIY yang turun tangan terlibat dalam seluruh proses evakuasi korban tewas tertimbun bencana tanah longsor mengatakan, jumlah tim ACT – MRI DIY yang terlibat berjumlah empat orang.

“Operasi SAR gabungan dipimpin langsung oleh Basarnas Magelang dan BPBD Magelang. Ada juga dari Polres Magelang dan Kodim Magelang,” ujar Fathul, Selasa (19/12) di Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang.

Delapan Penambang Tewas, Delapan Lainnya Luka-Luka

Diduga akibat intensitas hujan yang bertambah signifikan sejak memasuki musim penghujan, sebuah tebing di wilayah penambangan pasir di aliran Kali Bebeng Kabupaten Magelang longsor.

Bencana longsor itu pun menimbun deretan truk penambang pasir yang sedang melakukan aktivitas menambang di Kaki Gunung Merapi tersebut. Tercatat 16 korban mengalami musibah bencana longsoran di Kali Bebeng. Rinciannya delapan orang penambang pasir tewas, sementara delapan orang lainnya luka-luka.

Sungai atau Kali Bebeng memang berhulu langsung dari Gunung Merapi. Pasir-pasir jutaan ton yang dikeluarkan dari erupsi Gunung Merapi digadang-gadang menjadi pasir terbaik dalam urusan konstruksi bangunan. Maka wajar jika sepanjang hari tanpa henti, ribuan warga di Kaki Gunung Merapi berprofesi sebagai penambang pasir.

Fathul mengisahkan, ada ratusan titik penambang pasir di sekian banyak sungai yang berhulu dari Gunung Merapi.

Sedikitnya, data yang dihimpun tim Emergency Response ACT DIY mencatat, paling tidak ada 10-15 ribu penambang pasir yang menggantungkan hidup di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari Gunung Merapi.

 “Musibah longsor Senin pagi (18/12) kemarin terjadi di Kali Bebeng. Ketika penambang pasir sedang menambang seperti biasa, tiba-tiba tebing sungai setinggi 25 meter longsor. Puluhan penambang sedang bekerja persis di bawah tebing longsor," ujar Fathul. 

Bukan kali pertama bencana longsor terjadi di kawasan tambang sungai yang berhulu dari Merapi ini. Catatan Tim Emergency Response ACT DIY menunjukkan, dalam tiga bulan terakhir yakni sejak Agustus, Oktober dan November tahun 2017 selalu ada peristiwa serupa.

“Paling tidak sebulan sekali, selalu ada kejadian longsor di wilayah penambang pasir Gunung Merapi. Namun warga sekitar mengatakan, kejadian longsor di Kali Bebeng Senin (18/12) kemarin termasuk kejadian terburuk dengan jumlah korban meninggal paling banyak dalam sepuluh tahun terakhir,” kata Onny dari Tim ACT DIY.

Sampai penutupan operasi SAR Selasa (19/12), Tim Emergency Response ACT DIY merilis data, korban meninggal dunia akibat longsor di Kali Bebeng berjumlah 8 orang.

“Seluruh korban meninggal dunia berasal dari dua dusun yang berbeda. Lima korban meninggal dunia berasal dari Dusun Kemburan Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang. Tiga orang korban meninggal dunia lainnya berasal dari Dusun Dermo, Desa Bringin, Kecamatan Srumbung, Magelang,” pungkas Fathul. []

Tag

Belum ada tag sama sekali