lslam, Titik Nol Peradaban Dunia

Ustaz Faris BQ berpendapat bahwa titik 0 peradaban di dunia saat ini adalah peradaban Islam. Sebab pada saat itu, peradaban Islam malah bergerak maju dan menyebarkan pengaruhnya ke seluruh dunia.

lslam, Titik Nol Peradaban Dunia' photo
Ustaz Faris BQ dalam acara ACT Talks. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Kekaisaran Romawi dan Persia yang adidaya hingga abad ke-6 Masehi, perlahan runtuh. Banyak asumsi mengenai bubarnya dua peradaban besar ini dari dunia. Namun yang pasti dari sebuah wilayah di Timur Tengah, satu peradaban lain bergerak maju seiring dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW. Menurut Ustaz Faris BQ, peradaban inilah yang disebut titik nol dari peradaban dunia saat ini.

“Artinya sekarang ini titik kilometer 0 dari semua peradaban di dunia itu Islam. Tidak mungkin Amerika Serikat mencapai apa yang ia capai hari, tidak mungkin Eropa mencapai apa yang ia capai hari ini, tidak mungkin Indonesia mencapai apa yang ia capai hari ini, kecuali titik kilometer 0-nya dari sejarah Rasulullah itu. Dari generasi terbaik itu, kemudian ke Andalusia, kemudian menemukan benua Amerika, kemudian ke Asia, kemudian ke mana-mana,” ujar Ustaz Faris BQ pada Podcast ACT Talks yang disiarkan pada Selasa (28/7) lalu.

Bukan tanpa sebab, pada abad itu memang tengah berlangsung zaman kegelapan yang dikenal dengan dark ages, dan berlangsung hingga abad ke-16. Ustaz Faris menceritakan orang-orang menyebut abad itu sebagai abad pesimistis. Peradaban Romawi dan Persia juga ikut runtuh pada abad itu.

Tetapi Islam justru menggapai zaman keemasannya sejak di abad ke-8, di tengah masyarakat yang berpikir bahwa tidak ada masa depan lagi nantinya. Menurut Ustaz Faris, sebabnya peradaban saat itu sangat bergantung pada materi sehingga kehilangan ruhnya.


Ustaz Faris BQ sedang menjelaskan tentang peradaban Islam di ACT Talks. (ACTNews)

“Romawi ini peradaban yang dibangun dengan batu bata. Bangunannya luar biasa sekali kita lihat. Tapi tidak ada ruhnya. Begitu tidak ada ruh, runtuh dia. Kita ini harus seimbang antara ruh dan material,” demikian jelas Ustaz Faris.

Karakter ini ia samakan dengan masyarakat sekarang yang banyak bertumpu pada materi belaka. Siapa yang banyak materinya, maka dialah yang hebat. Tapi semua itu sebenarnya hanya kerapuhan belaka.

“Kan manusia sekarang begitu. Kalau saya lebih banyak rumah, lebih banyak mobil, lebih banyak tanah, saya lebih bahagia. Tapi lihat kerapuhannya, (Romawi) hanya 35 tahun runtuh di kalangan umat (Islam) yang didirikan di atas kekuatan ruh,” tutur Ustaz Faris.


Ajaran ini misalnya tercermin dalam kurban, di mana Allah telah berfirman pada Surah Al Hajj ayat 37, bahwa daging dan darah kurban tidak akan mencapai rida Allah, melainkan ketakwaannya. Inilah yang disebut Ustaz Faris sebagai kekuatan ruh.

“Allah tidak melihat darah, tidak melihat daging, itu kan material. Takwa itu apa? Ruhnya. Untuk apa itu? Sebagai bentuk kamu melihat bagaimana Allah menundukkan segala sesuatu untuk kamu. Bagaimana Allah menundukkan hewan, semesta ini, untuk manusia. Tapi begitu manusia berbalik tunduk kepada semesta, tunduk kepada materi, tunduk kepada harta-harta, maka dia kerdil di mata Allah, kerdil di mana alam raya,” jabar Ustaz Faris. []


Bagikan