Mak Ijah dan Iis Pantang Menyerah Meski Pandemi Menggerogoti Ekonomi

Tidak ada pilihan bagi pengusaha kecil selain terus berikhtiar di tengah krisis akibat pandemi Covid-19. Sebab itulah jalan yang mereka geluti untuk mendapatkan nafkah, termasuk yang dilakukan Mak Ijah dan Iis, dua perempuan asal Jawa Barat yang menyambung hidup dari berdagang dan menjahit.

Mak Ijah dan Iis Pantang Menyerah Meski Pandemi Menggerogoti Ekonomi' photo
Ijah (65) berjualan gorengan keliling dari kampung ke kampung untuk mencari nafkah. (ACTNews)

ACTNews, BANDUNG, GARUT – Ijah (65) terus berkeliling menjajakan gorengannya. Ia berjalan dari rumahnya di Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung menyusuri permukiman lain di Kelurahan Cikutra setiap hari. Dari situlah perempuan baya itu memperoleh penghasilan untuk dirinya dan keluarga.

Berawal dari usahanya berjualan sayuran keliling menggunakan gerobak kecil, perempuan yang akrab dipanggil Mak Ijah menyusuri kampung-kampung. Usaha itu memang tidak berjalan mulus karena banyak pembeli yang berutang. Demi menyambung hidup, ia berdagang gorengan keliling. Setiap hari Mak Ijah menjajakan jualannya dengan berjalan kaki sambil membopong gorengannya menggunakan baskom di atas kepala.

Capek mah ada. Cuma insyaallah ini rezeki halal,” kata Mak Ijah saat ditemui tim Global Wakaf - ACT Jawa Barat awal Oktober lalu. Saat ini, usaha Mak Ijah pun tidak lepas dari dampak pandemi. Pembeli gorengannya tidak lagi banyak. Daya beli masyarakat menurun atau masyarakat lebih menyisihkan penghasilannya untuk membeli kebutuhan kesehatan. Tidak ada pilihan lain, Ijah tak pantang menyerah dan terus berkeliling kampung demi sesuap nasi.

Tidak berbeda jauh dengan Ijah, Iis (36), warga Desa Simpangsari, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, masih terus mengikhtiarkan usaha menjahit rumahannya. Usaha itu memang sudah lama sepi. Masyarakat kini jarang sekali menjahitkan pakaian dan lebih memilih membeli di toko online.