Makan Bersama, Momen Silaturahmi Pengungsi Suriah

Makan Bersama, Momen Silaturahmi Pengungsi Suriah

ACTNews, REYHANLI - Salah satu aula besar yang kami datangi di sudut kota Reyhanli nampak penuh. Riuh celotehan anak dan obrolan santai pengungsi Suriah meramaikan suasana pendistribusian paket pangan siap santap di kota Reyhanli, akhir pekan lalu. Dibalut dalam acara makan bersama, ratusan anak yatim dan pengungsi Suriah menikmati santapan lezat dan bergizi, hasil olahan Dapur Umum ACT.

Kami menyapa Nizam, yang saat itu tengah mengawasi anaknya bermain dari jauh. Ia tidak begitu khawatir ketika anak perempuannya berlarian bersama teman sebayanya di sebuah aula besar. Ia hanya tersenyum menikmati keceriaan sang anak, sambil sesekali memperhatikan anak lelakinya makan di samping dirinya. 

 

Ibu tiga anak ini merupakan pengungsi Suriah yang tinggal di Reyhanli, salah satu kota perbatasan antara Turki dan Suriah. Bersama anak-anaknya, Nizam ikut menghadiri acara makan bersama sore itu.

Di hadapannya, nampak sedikit sisa makanan di wadah yang menampung nasi dan lauk-pauk miliknya. Ia baru saja selesai menyantap menu makanan sore itu: nasi biryani, ayam, salad, corba (sup khas Turki), dan segelas susu.

“Alhamdulillah, saya suka makanannya. Enak,” ungkapnya tersenyum. Santapan khas Turki ini amat cocok di lidahnya.

Empat tahun tinggal di Reyhanli telah membuatnya akrab dengan panganan lokal. Menurutnya, sajian yang dihidangkan tidak jauh berbeda dengan panganan di kampung halamannya dekat Aleppo, Suriah.

“Waktu di Suriah kami juga biasa makan nasi,” tambahnya.

Berkumpul bersama 530 pengungsi Suriah lainnya pada akhir pekan lalu merupakan pengalaman pertama Nizam selama berada di Reyhanli sejak 2014. Momen tersebut menjadi ajang silaturahmi baginya, saling bertukar sapa dengan saudara setanah air. Ini mengingatkannya pada acara serupa ketika masih tinggal di Suriah, meskipun kondisinya tidak sebesar acara makan bersama pada sore itu.

Nizam mengenang bagaimana indahnya Suriah sebelum konflik pecah pada 2011. Kehidupan yang dijalaninya begitu normal layaknya warga sipil pada umumnya. Acara kumpul bersama biasa ia lakukan bersama tetangga maupun sanak saudara lainnya. Keadaan finansial pun tercukupi. Ia bekerja sebagai kepala sekolah, membantu suaminya memenuhi kebutuhan harian keluarga.

“Namun, keadaan terus memburuk ketika perang terjadi. Lingkungan rumah kami dibom, rumah saya juga hancur. Suami saya dipenjara, tidak tahu kabarnya hingga sekarang. Mungkin sudah meninggal. Lalu salah satu anak saya meninggal dan satu lainnya lumpuh akibat terkena bom. Oleh karena itu, saya dan tiga anak saya yang tersisa, mengungsi ke Turki tahun 2014 lalu,” ungkap Nizam.

Di Reyhanli, Turki, ia menyewa sepetak flat sederhana untuk ditinggali keluarga kecilnya. Ia melakukan pekerjaan halal apa pun demi bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. “Kadang membantu bersih-bersih di rumah warga Turki, kadang memungut sampah,” imbuh Nizam.

Selama mengungsi di Turki, kegiatan berkumpul dan makan bersama mulai jarang dilakukan. Begitu pula dengan pengungsi lainnya. Bukan karena terbatasnya waktu, namun lebih kepada terbatasnya kondisi finansial.

“Sudah empat tahun di sini (Reyhanli), tapi belum pernah mengadakan acara seperti ini lagi. Alhamdulillah, hari ini bisa berkumpul bersama dengan ratusan pengungsi lainnya. Ini pertama kalinya ada acara makan bersama sebesar ini di kota kami. Tempatnya luas, besar, dan bikin betah. Anak-anak saya juga terlihat senang sekali. Jazakumullah khair,” ucapnya penuh syukur.

Kebahagiaan juga terpancar dari ratusan wajah mungil, para yatim Suriah, yang ikut hadir kala itu.

“Ruangan ini megah, besar! Jadi asyik bermain sama teman-teman. Baru kali ini soalnya kita makan dan main bareng,” seru Aya (7), yatim Suriah yang mengungsi ke Reyhanli tiga tahun lalu.

Sejak akhir Februari lalu, Dapur Umum ACT terus mendistribusikan paket pangan siap santap untuk pengungsi Suriah. Ribuan paket pangan tersaji setiap harinya bagi para pengungsi di perbatasan Turki dan Suriah maupun mereka yang masih terjebak di bungker bawah tanah di Ghouta Timur, Suriah. []

Tag

Belum ada tag sama sekali